Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah menembus angka Rp17.100 per dolar AS pada penutupan perdagangan terbaru. Kondisi ini memicu kekhawatiran, meski pemerintah menegaskan pelemahan tersebut masih dalam batas yang diantisipasi.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyampaikan bahwa tekanan terhadap rupiah bukanlah fenomena tunggal.
Menurutnya, sejumlah mata uang global juga mengalami pelemahan akibat dinamika ekonomi internasional. “Bukan hanya rupiah, berbagai mata uang lain juga mengalami hal yang sama,” ujarnya di Kompleks Istana Kepresidenan, Selasa (7/4/2026).
Tekanan Rupiah Sejak Siang Hari
Pelemahan rupiah sebenarnya sudah terlihat sejak sesi perdagangan siang hingga sore hari. Nilainya sempat turun hingga 75 poin sebelum akhirnya ditutup di kisaran Rp17.100 per dolar AS.
Situasi ini menunjukkan tekanan pasar yang cukup kuat, terutama di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung.
Pemerintah Klaim Sudah Antisipasi
Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa kondisi ini telah masuk dalam skenario perhitungan pemerintah.
Menurutnya, dalam penyusunan anggaran, pemerintah tidak hanya menggunakan satu asumsi nilai tukar, tetapi telah menyiapkan berbagai simulasi untuk menghadapi fluktuasi.
Ia juga memastikan bahwa pelemahan rupiah saat ini tidak langsung mengganggu postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Angka ini masih dalam hitungan skenario yang sudah kami siapkan,” jelasnya.
Namun, Purbaya memilih tidak mengungkap angka pasti asumsi nilai tukar yang digunakan pemerintah untuk menghindari spekulasi di pasar.
Peran Bank Indonesia Ditunggu
Hingga saat ini, Bank Indonesia belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait pelemahan rupiah yang telah menembus batas psikologis Rp17.000 per dolar AS.
Meski demikian, pemerintah menyerahkan pengelolaan stabilitas nilai tukar kepada bank sentral sebagai otoritas moneter.
Potensi Melemah Lebih Lanjut
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menilai tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut dalam waktu dekat.
Berdasarkan tren saat ini, nilai tukar rupiah bahkan diperkirakan bisa menembus level Rp17.120 per dolar AS pada perdagangan berikutnya.
Waspada, Tapi Tetap Tenang
Meski rupiah melemah, pemerintah berupaya menenangkan pasar dengan memastikan bahwa kondisi ini masih dalam kendali. Namun, pelaku pasar dan masyarakat tetap diminta waspada terhadap dinamika global yang dapat memengaruhi nilai tukar.
Ke depan, pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada respons kebijakan moneter serta perkembangan situasi ekonomi dunia. (Rhz2797)
