Saat hendak membeli celana jeans, banyak orang terkejut melihat selisih harganya. Ada yang dibanderol puluhan ribu rupiah, ada pula yang harganya setara tiket pesawat domestik. Lalu, apa sebenarnya yang membuat harga jeans bisa berbeda sejauh itu?
Menurut Colbey Reid, Direktur Sekolah Mode dan profesor studi mode di Columbia College Chicago, struktur harga denim memang kompleks dan tak selalu terlihat dari permukaan. Harga tidak hanya soal ongkos produksi, tetapi juga mencakup detail pengerjaan, material, skala produksi, hingga strategi merek.
Berikut faktor-faktor yang membuat harga jeans bisa murah atau justru sangat mahal.
1. Detail Pengerjaan dan Konstruksi
Salah satu penentu utama harga jeans adalah detail konstruksinya. Model dengan desain rumit dan tahapan produksi tambahan membutuhkan waktu serta tenaga lebih besar.
Elizabeth Davey, Direktur Produk di DUER, menjelaskan bahwa proses seperti finishing manual, pengamplasan kelim, bordir, hingga pewarnaan khusus dapat meningkatkan biaya produksi.
Selain itu, detail kecil seperti:
- Jahitan ganda
- Jahitan rantai di area saku
- Kancing cadangan di bagian dalam
- Paku keling dan patch premium
semuanya berkontribusi terhadap daya tahan dan harga akhir produk. Fitur ini mungkin tidak langsung terlihat, tetapi berdampak besar dalam jangka panjang.
2. Skala Produksi
Faktor berikutnya adalah skala produksi. Brand besar yang memesan dalam jumlah besar ke pabrik biasanya mendapatkan biaya produksi per potong yang lebih rendah. Inilah sebabnya merek global kadang bisa menjual jeans dengan harga kompetitif.
Sebaliknya, jeans edisi terbatas atau produksi kecil cenderung lebih mahal karena tidak mendapat keuntungan dari skala ekonomi tersebut.
3. Material yang Digunakan
Semua denim berbahan dasar katun, tetapi kualitasnya berbeda-beda. Shelley Rogers dari Earthday.org menjelaskan bahwa kapas organik—yang ditanam tanpa pestisida dan menggunakan lebih sedikit air—umumnya lebih mahal dibanding kapas konvensional.
Negara seperti Jepang dan Italia dikenal memproduksi kain denim premium. Denim Jepang, misalnya, sering menggunakan teknik pewarnaan khusus yang menghasilkan warna indigo pekat dan tahan lama.
Jeans berbahan 100 persen katun biasanya lebih awet dan mahal dibanding campuran sintetis. Namun, banyak produsen menambahkan bahan seperti poliester atau elastane untuk memberikan elastisitas dan menekan harga produksi.
Campuran bahan ini memengaruhi:
- Kenyamanan
- Daya tahan
- Fleksibilitas
- Tampilan akhir
4. Faktor Merek dan Strategi Harga
Nama merek juga berperan besar dalam menentukan harga. Larissa Lowthorp, pendiri brand Lunescape, menyebut bahwa harga sering kali dipengaruhi persepsi konsumen terhadap brand tersebut.
Tak jarang, jeans yang dipasarkan sebagai produk mewah diproduksi di pabrik yang sama dengan jeans pasar massal. Artinya, konsumen bisa saja membayar lebih untuk:
- Biaya pemasaran
- Peragaan busana
- Lokasi toko premium
- Strategi positioning brand
Sepasang jeans desainer mungkin hanya sedikit lebih mahal biaya produksinya, tetapi dijual berkali lipat karena strategi branding.
5. Cara Menilai Apakah Harganya Sepadan
Agar tidak salah pilih, ada beberapa hal yang bisa diperiksa sebelum membeli jeans:
- Rasakan ketebalan dan berat denim
- Periksa kerapatan dan kerapian jahitan
- Pastikan benang yang digunakan tebal dan kuat
- Cek lipatan dan finishing apakah rapi
- Perhatikan detail tambahan seperti bordir atau ujung khusus
Jeans berkualitas biasanya memiliki struktur yang kokoh dan tetap rapi meski dilipat atau dipakai dalam waktu lama.
Jadi, Mahal Pasti Lebih Bagus?
Tidak selalu. Harga jeans dipengaruhi banyak faktor, mulai dari material hingga strategi merek. Ada jeans mahal karena kualitas dan proses produksinya, tetapi ada juga yang mahal karena nilai brand.
Sebaliknya, jeans murah bisa saja cukup baik untuk pemakaian kasual, tetapi mungkin tidak seawet denim premium.
Pada akhirnya, pilihan terbaik adalah yang sesuai kebutuhan, kenyamanan, dan anggaran Anda.
