Notification

×

Iklan

Iklan

Kenapa Imlek Identik dengan Warna Merah dan Hujan? Ternyata Ini Makna Tersembunyinya!

Februari 16, 2026 Last Updated 2026-02-16T12:35:15Z


                             

Perayaan Tahun Baru Imlek atau Tahun Baru Imlek selalu menghadirkan suasana khas yang langsung terasa berbeda. Dekorasi merah menghiasi rumah, pusat perbelanjaan, hingga tempat ibadah. Tak hanya itu, hujan yang kerap turun saat hari perayaan pun sering dianggap sebagai pertanda baik.


Di balik warna merah yang mendominasi dan turunnya hujan saat Imlek, ternyata tersimpan makna filosofis yang kuat dalam tradisi masyarakat Tionghoa. Keduanya bukan sekadar kebetulan, melainkan simbol yang diwariskan turun-temurun.


Warna Merah: Lambang Keberuntungan dan Penolak Bala


Setiap Imlek tiba, warna merah hampir selalu mendominasi berbagai elemen perayaan. Amplop angpao, lentera, pakaian, hingga ornamen pintu dan dinding dibuat serba merah.


Dalam budaya Tionghoa, merah melambangkan keberuntungan, kebahagiaan, kemakmuran, dan energi positif. Warna ini juga dipercaya mampu mengusir roh jahat serta energi negatif.


Asal-usul penggunaan warna merah dalam Imlek sering dikaitkan dengan legenda Nian. Dalam cerita rakyat Tiongkok, Nian adalah makhluk buas yang muncul di akhir tahun dan menakuti warga. Konon, makhluk tersebut takut pada warna merah dan suara bising. Sejak saat itu, masyarakat menggantung lentera merah dan menyalakan petasan untuk mengusirnya.


Selain legenda, dalam prinsip Feng Shui, warna merah dianggap memiliki energi kuat yang dapat menarik keberuntungan dan kesejahteraan. Karena itulah, penggunaan warna merah saat Imlek dipercaya membawa hoki sepanjang tahun.


Di era modern, warna merah tetap menjadi elemen utama, meski dikemas lebih kreatif. Mulai dari dekorasi minimalis, busana modern, hingga desain interior bertema Imlek yang elegan namun tetap mempertahankan makna tradisionalnya.


Hujan Saat Imlek: Pertanda Rezeki dan Kesuburan


Selain warna merah, fenomena hujan yang sering turun saat Imlek juga memiliki arti tersendiri. Bagi sebagian masyarakat Tionghoa, hujan di awal tahun baru dianggap sebagai simbol keberkahan dan rezeki yang melimpah.


Air dalam filosofi Tionghoa melambangkan kemakmuran dan aliran rezeki. Turunnya hujan dipercaya sebagai tanda alam yang membawa kesuburan, pembersihan, serta awal yang baru.


Secara ilmiah, Imlek biasanya jatuh antara akhir Januari hingga pertengahan Februari, yang di sejumlah negara Asia—termasuk Indonesia—bertepatan dengan musim hujan. Namun dalam kepercayaan tradisional, hujan tetap dimaknai lebih dari sekadar fenomena cuaca.


Air hujan diyakini membersihkan energi buruk dari tahun sebelumnya dan membuka jalan bagi keberuntungan di tahun yang baru.



Harmoni Manusia dan Alam dalam Tradisi Imlek


Perpaduan warna merah dan hujan mencerminkan filosofi hidup masyarakat Tionghoa yang menekankan harmoni antara manusia dan alam. Merah menjadi simbol doa, semangat, serta perlindungan. Sementara hujan dipandang sebagai jawaban atas harapan akan keberlimpahan.


Meski zaman terus berkembang, nilai-nilai ini tetap dijaga. Pertunjukan barongsai mungkin harus menyesuaikan cuaca ketika hujan turun, namun makna di baliknya tetap sama: harapan akan tahun yang lebih baik.


Pada akhirnya, warna merah dan hujan saat Imlek bukan sekadar tradisi visual atau kebetulan alam. Keduanya merepresentasikan doa, harapan, dan filosofi kehidupan yang telah diwariskan lintas generasi.


Dengan memahami maknanya, perayaan Imlek tidak hanya terasa meriah, tetapi juga semakin penuh arti dan makna mendalam.