Ketegangan di kawasan Asia Selatan kembali meningkat setelah militer Pakistan melancarkan serangan udara ke sejumlah wilayah di Afghanistan pada Minggu (22/2/2026). Islamabad menyebut operasi ini menargetkan basis kelompok militan yang dianggap bertanggung jawab atas rentetan serangan bom di wilayahnya.
Namun di sisi lain, otoritas di Kabul melaporkan bahwa serangan tersebut menewaskan puluhan warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak. Peristiwa ini menjadi eskalasi terbaru dalam hubungan yang terus memburuk antara kedua negara sejak 2021.
Pakistan Klaim Targetkan Basis Militan
Pemerintah Pakistan menyatakan telah menyerang tujuh lokasi di sepanjang perbatasan yang berbatasan langsung dengan Afghanistan. Target operasi disebut mencakup kelompok Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) serta afiliasinya, termasuk satu cabang dari Islamic State.
Dalam pernyataan resmi Kementerian Informasi dan Penyiaran Pakistan, serangan tersebut merupakan respons atas insiden bom bunuh diri yang terjadi baru-baru ini, termasuk ledakan di sebuah masjid Syiah di Islamabad dua pekan lalu yang menewaskan sedikitnya 40 orang dan melukai lebih dari 160 lainnya.
Islamabad menegaskan bahwa otoritas Taliban di Kabul telah berulang kali diminta mengambil tindakan terhadap kelompok militan yang disebut menggunakan wilayah Afghanistan sebagai basis serangan, namun dinilai tidak ada langkah konkret.
Afghanistan Sebut Banyak Korban Sipil
Pemerintah Afghanistan menyatakan serangan menghantam Provinsi Nangarhar dan Paktika. Juru bicara pemerintah, Zabihullah Mujahid, mengecam keras tindakan tersebut dan menyebutnya sebagai upaya menutupi kelemahan keamanan dalam negeri Pakistan.
Sumber keamanan Afghanistan yang tidak disebutkan namanya menyebut sedikitnya 17 orang tewas dalam satu insiden di distrik Bihsud, termasuk 12 anak-anak dan remaja ketika sebuah rumah menjadi sasaran serangan.
Serangan ini disebut sebagai yang terbesar sejak bentrokan perbatasan pada Oktober 2025 lalu yang menewaskan lebih dari 70 orang di kedua sisi dan melukai ratusan lainnya.
Hubungan Islamabad–Kabul Kian Renggang
Sejak Taliban kembali berkuasa di Afghanistan pada 2021, hubungan antara Islamabad dan Kabul terus memburuk. Sengketa perbatasan, isu pengungsi, serta tudingan perlindungan terhadap kelompok militan menjadi sumber utama ketegangan.
Gencatan senjata yang dimediasi oleh Qatar dan Turki pada akhir 2025 sempat meredakan konflik. Namun perundingan lanjutan di Doha dan Istanbul gagal mencapai kesepakatan jangka panjang.
Pakistan kembali menegaskan bahwa serangan udara terbaru ini merupakan langkah defensif untuk melindungi keamanan nasionalnya. Sementara Afghanistan bersikeras bahwa kedaulatan wilayahnya telah dilanggar dan warga sipil menjadi korban.
Situasi Masih Dinamis
Hingga kini, situasi di wilayah perbatasan masih tegang. Pengamat menilai, tanpa dialog konkret dan komitmen bersama untuk mengatasi kelompok bersenjata lintas batas, konflik serupa berpotensi terus berulang.
Perkembangan terbaru dari kawasan ini menjadi perhatian dunia internasional, mengingat dampaknya terhadap stabilitas regional Asia Selatan yang selama ini rentan terhadap konflik bersenjata dan aksi terorisme.
