Fenomena resign setelah menerima Tunjangan Hari Raya (THR) kembali menjadi sorotan setiap tahun, terutama usai momen Idul Fitri. Banyak yang mengira alasan utama karyawan pindah kerja adalah demi gaji lebih tinggi. Namun, data terbaru justru mengungkap fakta yang berbeda.
Pasca-Lebaran memang sering dimanfaatkan pekerja untuk mengevaluasi karier dan mencari peluang baru. Aktivitas pencarian kerja pun biasanya meningkat signifikan pada periode ini. Meski demikian, tren resign tidak selalu melonjak drastis dibandingkan waktu lain.
Menurut laporan Workplace Happiness Index, faktor finansial bukan satu-satunya alasan karyawan memilih keluar dari pekerjaan. Talent Acquisition Manager dari JobStreet by SEEK, Ria Novita, menyebutkan bahwa fenomena resign usai THR memang ada, tetapi skalanya tidak sebesar yang sering dikhawatirkan perusahaan.
Ia menjelaskan, banyak karyawan sebenarnya sudah merencanakan resign sejak jauh hari. Namun, mereka menunggu hingga hak seperti THR diterima sebelum resmi mengundurkan diri. Selama mengikuti prosedur yang berlaku, langkah ini dinilai sah secara profesional.
Menariknya, meski sekitar 54% pekerja Indonesia mengakui bahwa kenaikan gaji dapat meningkatkan kebahagiaan, faktor utama yang membuat karyawan bertahan justru bukan uang. Dua hal yang paling berpengaruh adalah work-life balance (keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi) serta purpose atau makna dalam pekerjaan.
Karyawan yang merasa pekerjaannya bermakna cenderung lebih bahagia dan loyal terhadap perusahaan. Bahkan, mereka memiliki peluang 24% lebih besar untuk memberikan kinerja ekstra dibandingkan pekerja yang tidak puas.
Fenomena resign setelah THR seharusnya tidak dipandang sebagai krisis semata, melainkan sebagai momentum evaluasi bagi perusahaan. Penting bagi manajemen untuk memahami alasan di balik keputusan karyawan keluar, mulai dari peluang karier, budaya kerja, hingga kualitas kehidupan kerja.
Di era kerja modern, gaji memang tetap penting sebagai daya tarik awal. Namun, lingkungan kerja yang sehat, fleksibel, dan memberikan makna justru menjadi kunci utama dalam mempertahankan talenta terbaik.
Dengan memahami perubahan ini, perusahaan dapat lebih siap menghadapi dinamika dunia kerja pasca-Lebaran sekaligus menciptakan tempat kerja yang lebih manusiawi dan berkelanjutan.
