Meski vaksin untuk mencegah campak telah tersedia selama puluhan tahun, penyakit ini masih ditemukan di berbagai negara. Kondisi tersebut menjadi perhatian dunia kesehatan karena campak termasuk penyakit yang sangat mudah menular.
Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), salah satu penyebab utama campak masih muncul adalah karena masih banyak anak yang belum mendapatkan imunisasi. Ketika cakupan vaksinasi tidak merata, virus dapat dengan mudah menyebar di masyarakat.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI juga menegaskan bahwa ketimpangan cakupan imunisasi di beberapa wilayah menjadi faktor penting yang meningkatkan risiko penularan campak.
Cakupan Imunisasi Belum Merata
Konsultan Penyakit Infeksi dan Tropik Anak dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, dr. Mulya Rahma Karyanti, menjelaskan bahwa kasus campak biasanya muncul di daerah dengan tingkat imunisasi rendah.
Menurutnya, secara nasional capaian imunisasi campak-rubella sebenarnya sudah melampaui target. Namun masih terdapat sejumlah daerah di tingkat provinsi, kabupaten, hingga desa yang cakupan vaksinasinya belum optimal.
“Secara nasional capaian imunisasi MR sudah melampaui target, tetapi kasus masih terjadi di wilayah yang cakupan imunisasinya rendah,” jelas dr. Mulya dalam konferensi pers Kemenkes pada 26 Februari 2026.
Ia menambahkan bahwa wilayah dengan tingkat imunisasi rendah dapat menjadi kantong penyebaran penyakit.
Campak Termasuk Penyakit Sangat Menular
WHO menyebut campak sebagai salah satu penyakit paling menular di dunia. Virus ini dapat menyebar melalui udara ketika penderita batuk, bersin, atau bahkan saat bernapas.
Virus campak juga dapat bertahan di udara maupun di permukaan benda hingga dua jam. Hal ini membuat risiko penularannya sangat tinggi.
Dalam kondisi tertentu, satu orang yang terinfeksi campak dapat menularkan virus kepada hingga 18 orang lain yang belum memiliki kekebalan terhadap penyakit tersebut.
Jutaan Anak Belum Mendapatkan Vaksin
WHO dan UNICEF mencatat bahwa masih banyak anak di dunia yang belum memperoleh vaksin campak. Pada tahun 2024 saja, sekitar 30 juta bayi dilaporkan belum mendapatkan perlindungan imunisasi campak secara memadai.
Beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya cakupan imunisasi antara lain keterbatasan akses layanan kesehatan, gangguan program vaksinasi di beberapa wilayah, serta rendahnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya imunisasi.
Ketika cakupan vaksinasi rendah, risiko munculnya wabah campak pun akan meningkat.
Imunisasi Jadi Kunci Pencegahan
Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa imunisasi tetap menjadi cara paling efektif untuk mencegah penyebaran campak.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, dr. Andi Saguni, menyatakan bahwa cakupan imunisasi yang tinggi dapat memutus rantai penularan virus.
“Pencegahan campak sangat bergantung pada imunisasi yang lengkap dan merata. Jika cakupannya tinggi dan tidak ada wilayah yang tertinggal, rantai penularan dapat dihentikan,” ujarnya.
WHO juga menegaskan bahwa vaksin campak aman, efektif, dan telah digunakan selama puluhan tahun untuk melindungi masyarakat dari penyakit ini. Dengan cakupan imunisasi yang merata, risiko penyebaran campak dapat ditekan secara signifikan.
