Notification

×

Iklan

Iklan

Dunia Bereaksi! PBB Desak Investigasi Serangan Maut di Sekolah Iran yang Diduga Dilakukan AS

Maret 07, 2026 Last Updated 2026-03-07T10:31:11Z


Ketegangan konflik di Timur Tengah kembali memicu perhatian dunia internasional setelah sebuah sekolah dasar di Iran selatan dilaporkan menjadi korban serangan udara mematikan. Insiden tersebut kini mendapat sorotan serius dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang meminta dilakukan penyelidikan segera dan transparan.


Komisioner Tinggi Hak Asasi Manusia PBB, Volker Türk, mendesak agar investigasi independen dilakukan atas serangan yang menghantam sebuah sekolah dasar di kota Minab. Serangan itu terjadi pada hari pertama konflik militer yang berlangsung Sabtu pekan lalu.


Menurut pejabat Iran, sedikitnya 150 orang dilaporkan tewas dalam serangan tersebut. Angka korban ini masih sulit diverifikasi secara independen karena akses ke lokasi kejadian sangat terbatas.


Dalam keterangannya kepada wartawan di Jenewa, Swiss, Türk menyebut peristiwa tersebut sebagai tragedi besar yang harus segera diusut.


“Ini adalah insiden yang benar-benar tragis. Saya berharap investigasi dilakukan dengan segera dan secara penuh transparan,” ujarnya.


Ia juga menegaskan bahwa proses penyelidikan harus disertai dengan pertanggungjawaban yang jelas jika terbukti terjadi kesalahan dalam operasi militer tersebut.


“Kami juga berharap ada akuntabilitas, karena jelas kesalahan telah terjadi,” tambahnya.


Dugaan Keterlibatan Militer AS


Sejumlah laporan media internasional mulai mengaitkan serangan tersebut dengan operasi militer Amerika Serikat. Investigasi yang dipublikasikan oleh The New York Times menyebut bahwa serangan kemungkinan terjadi bersamaan dengan operasi militer AS yang menargetkan fasilitas angkatan laut Iran di sekitar Selat Hormuz.


Analisis terhadap unggahan media sosial, foto, dan video dari saksi mata menunjukkan bahwa Shajare Tayyebeh School di kota Minab terkena serangan pada waktu yang hampir bersamaan dengan serangan terhadap pangkalan militer milik Islamic Revolutionary Guard Corps di wilayah tersebut.


Dua pejabat Amerika Serikat yang tidak disebutkan namanya juga menyatakan kepada Reuters bahwa penyelidik militer “meyakini kemungkinan besar” pasukan AS berada di balik serangan tersebut.


Hingga kini, baik Amerika Serikat maupun Israel belum secara resmi mengakui bertanggung jawab atas insiden tersebut. Namun Departemen Pertahanan Amerika Serikat menyatakan sedang melakukan penyelidikan internal terkait peristiwa itu.


Lokasi Strategis Dekat Selat Hormuz


Kota Minab terletak sekitar 25 kilometer dari Selat Hormuz, jalur pelayaran internasional yang sangat strategis bagi perdagangan energi dunia. Wilayah ini juga dikenal memiliki sejumlah fasilitas militer Iran.


Kepala perwira militer tertinggi Amerika Serikat, Dan Caine, sebelumnya menyatakan bahwa militer AS memang melakukan operasi militer di wilayah Iran selatan pada waktu yang sama.


Dalam laporan yang dipublikasikan The New York Times, Caine bahkan menunjukkan peta yang mencakup wilayah Minab sebagai bagian dari target operasi militer dalam 100 jam pertama serangan.


Kekhawatiran Pelanggaran Hukum Humaniter


Türk menegaskan bahwa serangan terhadap fasilitas sipil seperti sekolah menimbulkan kekhawatiran serius terkait kepatuhan terhadap hukum humaniter internasional.


Menurutnya, setiap operasi militer harus memperhatikan prinsip kehati-hatian, pembedaan antara target militer dan sipil, serta proporsionalitas penggunaan kekuatan.


“Ketika yang terkena serangan adalah sebuah sekolah, itu jelas merupakan institusi sipil yang seharusnya tidak pernah diserang,” katanya.


Ia juga menyoroti waktu kejadian yang terjadi pada pagi hari ketika kegiatan belajar kemungkinan sedang berlangsung.


Kelompok pemantau HAM yang berbasis di Norwegia, Hengaw Organization for Human Rights, melaporkan bahwa sekitar 170 siswa diduga berada di sekolah tersebut saat serangan terjadi.


PBB Minta Penyelidikan Cepat dan Transparan


PBB menyambut baik pernyataan pemerintah Amerika Serikat yang berjanji melakukan penyelidikan atas insiden tersebut. Namun Türk menekankan bahwa proses investigasi harus dilakukan secepat mungkin dan disertai pertanggungjawaban yang jelas.


Selain memastikan keadilan bagi para korban, ia juga berharap tragedi tersebut menjadi pelajaran penting agar prosedur operasi militer ke depan dapat dievaluasi secara menyeluruh.


“Kami membutuhkan hal ini dilakukan dengan sangat cepat, dan kami juga harus memastikan ada akuntabilitas serta pemulihan bagi para korban,” ujarnya.


Türk menegaskan bahwa tanggung jawab utama untuk menyelidiki insiden tersebut berada pada pihak yang melakukan serangan.


“Kami berharap akuntabilitas benar-benar ditegakkan,” tutupnya.