Industri plastik Indonesia tengah menghadapi ancaman serius. Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) memperingatkan potensi kelangkaan bahan baku yang bisa berdampak langsung pada ketersediaan produk plastik di pasaran dalam waktu dekat.
Ancaman ini dipicu terganggunya distribusi bahan baku utama seperti nafta dari kawasan Timur Tengah, menyusul memanasnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Situasi tersebut turut berdampak pada akses di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi global.
Stok Bisa Habis dalam 50 Hari
Sekretaris Jenderal Inaplas, Fajar Budiono, mengungkapkan bahwa saat ini pelaku industri hanya mengandalkan sisa bahan baku yang tersedia.
“Karena memang barangnya terbatas, kami antisipasi jangan sampai 50 hari ke depan habis di tengah jalan,” ujarnya, Senin (6/4/2026).
Kondisi ini membuat produsen harus menahan laju produksi dan lebih berhati-hati dalam mengelola stok.
Harga Melonjak, Produsen Tahan Diri
Selain keterbatasan pasokan, lonjakan harga bahan baku juga menjadi tantangan besar. Fajar menuturkan, ketidakpastian global membuat pelaku industri enggan menambah stok dalam jumlah besar karena risiko kerugian yang tinggi.
Ia mencontohkan pengalaman pada 2008, saat harga bahan baku plastik sempat melonjak hingga 2.100 dolar AS per metrik ton, namun tiba-tiba anjlok drastis. Kondisi serupa dikhawatirkan terulang di tengah situasi geopolitik yang tidak menentu saat ini.
Akibatnya, banyak produsen memilih strategi aman dengan menahan pembelian bahan baku dan menyesuaikan produksi.
Imbauan Kurangi Penggunaan Plastik
Di tengah ancaman kelangkaan ini, Inaplas juga mengimbau masyarakat untuk menggunakan plastik secara bijak dan tidak berlebihan.
Penggunaan plastik yang berlebihan dikhawatirkan mempercepat habisnya stok yang tersedia dan memicu kenaikan harga di pasaran.
“Belanja sesuai kebutuhan saja, tidak perlu berlebihan menggunakan kantong plastik,” kata Fajar.
Strategi Bertahan Industri
Untuk menghadapi krisis, produsen mulai melakukan berbagai penyesuaian, mulai dari mencari alternatif bahan baku hingga mengatur ulang ukuran dan jenis produk plastik.
Meski demikian, Fajar memastikan bahwa harga plastik ke depan kemungkinan besar tidak akan kembali ke level sebelum krisis. Pasar diperkirakan akan menemukan titik keseimbangan baru dengan harga yang lebih tinggi.
Dampak Luas ke Konsumen
Jika kondisi ini terus berlanjut, bukan hanya industri yang terdampak, tetapi juga masyarakat luas. Kenaikan harga kemasan plastik berpotensi memicu inflasi pada berbagai produk, mulai dari makanan hingga kebutuhan sehari-hari.
Dengan situasi global yang masih belum stabil, kewaspadaan dan efisiensi menjadi kunci agar dampak krisis ini bisa ditekan seminimal mungkin. (Rhz2797)
