Notification

×

Iklan

Iklan

Bikin Kaget! Biaya Jalan BYD Atto 1 vs Honda Brio, Selisihnya Tembus Jutaan

April 08, 2026 Last Updated 2026-04-08T00:27:46Z

Pasar mobil murah di Indonesia yang sebelumnya didominasi segmen LCGC kini mulai berubah sejak hadirnya mobil listrik seperti BYD Atto 1. Di sisi lain, model konvensional seperti Honda Brio Satya masih menjadi pilihan utama berkat efisiensi bahan bakar dan kemudahan penggunaan.


Lalu, bagaimana jika keduanya dibandingkan dari sisi kehematan biaya operasional?


Secara spesifikasi, BYD Atto 1 dibekali motor listrik dengan tenaga sekitar 75 tenaga kuda dan torsi 135 Nm. Mobil ini hadir dengan dua opsi jarak tempuh, yakni sekitar 300 km dan 380 km dalam sekali pengisian daya.


Sementara itu, Honda Brio Satya mengandalkan mesin bensin 1.200 cc yang mampu menghasilkan tenaga sekitar 90 tenaga kuda dan torsi 110 Nm. Karakternya dikenal ringan dan efisien, terutama untuk penggunaan harian di perkotaan.


Dalam hal efisiensi energi, Atto 1 mencatat konsumsi sekitar 8,5 km per kWh berdasarkan pengujian. Angka ini tentu bisa berubah tergantung kondisi jalan, gaya berkendara, hingga beban kendaraan.


Di sisi lain, konsumsi bahan bakar Brio berada di kisaran 16–20 km per liter, menjadikannya salah satu mobil bensin paling irit di kelasnya.


Untuk gambaran penggunaan nyata, simulasi dilakukan dengan rute harian Bogor–Jakarta pulang-pergi sejauh 100–120 km selama 30 hari. Total jarak tempuh mencapai sekitar 3.000–3.600 km per bulan.


Dengan harga Pertamax Rp 12.300 per liter, Honda Brio membutuhkan sekitar 150–225 liter bensin per bulan. Artinya, biaya bahan bakar yang harus dikeluarkan berkisar Rp 1,84 juta hingga Rp 2,77 juta.


Sebaliknya, BYD Atto 1 hanya memerlukan sekitar 353–424 kWh listrik per bulan. Jika pengisian dilakukan di rumah dengan tarif Rp 1.444 per kWh, biaya yang dibutuhkan berkisar Rp 509.000 hingga Rp 612.000.


Namun, jika mengandalkan SPKLU dengan tarif sekitar Rp 2.400–Rp 2.500 per kWh, biaya pengisian naik menjadi Rp 847.000 hingga Rp 1,06 juta per bulan. Meski begitu, angka ini tetap jauh lebih hemat dibandingkan mobil berbahan bakar bensin.


Secara keseluruhan, mobil listrik unggul dari sisi biaya operasional dengan selisih penghematan yang bisa mencapai lebih dari Rp 2 juta per bulan.


Meski demikian, ada beberapa hal yang masih menjadi pertimbangan konsumen. Salah satunya adalah kekhawatiran soal jarak tempuh dan risiko kehabisan daya saat perjalanan jauh.


Berbeda dengan mobil bensin seperti Honda Brio, yang didukung jaringan SPBU luas serta proses pengisian bahan bakar yang cepat dan praktis.


Dari sisi perawatan, mobil listrik juga memiliki keunggulan karena jumlah komponennya lebih sedikit dan minim servis rutin. Namun, teknologi yang relatif baru membuat sebagian konsumen masih mempertimbangkan potensi risiko, terutama pada komponen seperti baterai dan sistem kelistrikan.


Sementara itu, teknologi mesin bensin pada Brio sudah terbukti dan didukung jaringan bengkel yang luas, sehingga lebih mudah dalam hal perawatan dan perbaikan.


Pada akhirnya, pilihan antara mobil listrik dan mobil bensin kembali pada kebutuhan masing-masing pengguna. Jika mengutamakan efisiensi biaya jangka panjang, mobil listrik seperti BYD Atto 1 jelas lebih unggul. Namun, untuk fleksibilitas dan kemudahan penggunaan, Honda Brio masih menjadi opsi yang sulit tergantikan. (Rhz2797)