Notification

×

Iklan

Iklan

Diam-diam Mengecil! Harga Kedelai Naik, Tahu-Tempe di Bekasi Ikut “Berubah”

April 08, 2026 Last Updated 2026-04-08T00:14:59Z


Kenaikan harga kedelai impor kembali menekan pelaku usaha kecil di sektor pangan, khususnya perajin tahu dan tempe di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Lonjakan harga bahan baku utama hingga menyentuh Rp 10.900 per kilogram membuat para produsen harus mencari cara agar usaha mereka tetap berjalan di tengah kondisi ekonomi yang tidak stabil.


Situasi ini semakin diperparah dengan naiknya harga bahan pendukung seperti plastik kemasan. Akibatnya, para perajin terpaksa melakukan berbagai penyesuaian, mulai dari efisiensi biaya operasional hingga mengubah ukuran produk yang dijual ke pasar.


Salah satu perajin tahu di Kecamatan Cikarang Barat, Deden (55), mengaku harus mengambil langkah berat demi mempertahankan usahanya. Ia memilih memperkecil ukuran tahu serta mengurangi jumlah pekerja untuk menekan biaya produksi yang terus membengkak.


Menurutnya, keputusan tersebut bukan tanpa risiko. Hampir 50 persen pekerja terpaksa dirumahkan sementara. Namun, sistem kerja kini dibuat fleksibel, di mana seluruh karyawan hanya masuk saat permintaan pasar meningkat. Meski demikian, Deden bersyukur para pekerjanya masih memahami kondisi yang terjadi.


Kondisi serupa juga dialami Sukhep (51), perajin tempe asal Desa Jayasampurna, Kecamatan Serang Baru. Ia menyebutkan harga kedelai kini telah melonjak dari Rp 10.000 menjadi Rp 10.900 per kilogram. Bahkan, setiap pengiriman baru dari distributor kerap disertai kenaikan harga sekitar Rp 10.000 per kuintal.


Kenaikan ini mulai terasa sejak menjelang Idul Fitri 1447 Hijriah, namun yang paling memberatkan adalah fluktuasi harga yang terjadi dalam waktu singkat. Hal ini membuat perajin kesulitan memprediksi biaya produksi dan menentukan strategi penjualan.


Tak hanya kedelai, harga plastik kemasan juga mengalami lonjakan signifikan. Dari sebelumnya Rp 270.000 per rol, kini naik menjadi Rp 380.000. Kenaikan ini diduga dipengaruhi oleh harga bahan baku plastik impor yang turut terdampak kondisi global.


Sukhep menilai gejolak geopolitik internasional, termasuk konflik di Timur Tengah, turut memicu ketidakstabilan harga bahan baku. Meski begitu, ia memilih tidak langsung menaikkan harga jual kepada konsumen. Sebagai alternatif, ukuran tempe diperkecil agar tetap mendapatkan keuntungan meskipun margin semakin tipis.


Langkah ini dinilai sebagai strategi bertahan yang umum dilakukan pelaku usaha kecil di tengah tekanan biaya produksi. Namun, dampaknya juga berpotensi menurunkan volume produksi karena ukuran produk yang semakin kecil.


Sementara itu, Dinas Perdagangan Kabupaten Bekasi memastikan bahwa ketersediaan kedelai di wilayah tersebut masih dalam kondisi aman. Kepala Bidang Pengendalian Barang Pokok dan Penting (Bapokting), Helmy Yenti, menyebutkan bahwa meski terjadi kenaikan harga bahan baku, harga tahu dan tempe di pasaran masih relatif stabil.


Ia juga menilai langkah perajin yang menyesuaikan ukuran produk merupakan respons wajar dalam menghadapi tekanan ekonomi global. Pemerintah daerah pun terus memantau perkembangan harga agar pasokan dan stabilitas pasar tetap terjaga.


Di tengah situasi ini, perajin tahu dan tempe dituntut untuk terus beradaptasi. Meski tantangan semakin berat, mereka tetap berupaya menjaga produksi agar kebutuhan masyarakat akan pangan terjangkau tetap terpenuhi. (Rhz2797)