Notification

×

Iklan

Iklan

Daging Krengsengan Diduga Jadi Pemicu, Ratusan Siswa Surabaya Tumbang Usai Santap MBG

Mei 11, 2026 Last Updated 2026-05-11T13:19:16Z


Ratusan siswa dan guru dari sejumlah sekolah di Kecamatan Bubutan, Surabaya, Jawa Timur, diduga mengalami keracunan massal setelah menyantap menu program Makan Bergizi Gratis (MBG), Senin (11/5). Insiden ini membuat pihak sekolah, tenaga kesehatan, hingga aparat turun tangan melakukan penanganan dan investigasi.


Kepala Puskesmas Tembok Dukuh Surabaya, drg Tyas Pranadani, mengungkapkan jumlah korban yang mengalami gejala keracunan mencapai hampir 200 orang. Para siswa kini menjalani penanganan medis di Puskesmas Tembok Dukuh dan RSIA Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Surabaya.


Menurut Tyas, para korban berasal dari 12 sekolah berbeda, mulai dari tingkat TK, SD, hingga SMP. Seluruh sekolah tersebut menerima distribusi makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tembok Dukuh, Bubutan.


Gejala yang dialami para siswa didominasi mual, muntah, sakit perut, pusing, hingga tubuh lemas setelah mengonsumsi menu MBG. Paket makanan yang dibagikan saat itu terdiri dari nasi putih, daging krengsengan, tahu goreng, tumis wortel dan buncis, serta buah jeruk.


Dari keterangan sementara, banyak siswa mengeluhkan menu daging krengsengan. Bahkan beberapa siswa mengaku rasa daging tersebut terasa pahit dan menyerupai obat, meski aromanya dinilai normal.


Salah satu siswa kelas IV SD Raden Wijaya Tembok Dukuh, Gibran Pratama, mengaku mengalami sakit perut setelah memakan menu tersebut. Ia mengatakan tidak menghabiskan makanannya karena rasa daging terasa aneh.


Meski dugaan sementara mengarah pada menu makanan MBG, pihak Puskesmas belum memastikan sumber pasti penyebab keracunan. Sampel makanan kini telah diperiksa dan dikirim ke laboratorium Dinas Kesehatan Surabaya untuk dilakukan uji lebih lanjut.


Sementara itu, pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh siswa dan guru yang terdampak. Kepala SPPG Tembok Dukuh, Chafi Alida Najla, memastikan pihaknya akan bertanggung jawab penuh terhadap biaya pengobatan dan penanganan korban.


Ia menjelaskan proses pengolahan makanan sebenarnya telah dilakukan sesuai standar. Daging yang digunakan disebut dalam kondisi segar dan mulai dimasak sejak malam hari agar tetap layak konsumsi saat didistribusikan ke sekolah.


Namun, setelah insiden tersebut, pihak SPPG memutuskan menghentikan sementara operasional dapur MBG sambil menunggu hasil laboratorium keluar. Evaluasi menyeluruh juga dilakukan untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang.


Wakil Koordinator Badan Gizi Nasional, Teguh Bayu Wibowo, mengatakan pihaknya langsung turun ke lokasi setelah menerima laporan dugaan keracunan massal. Operasional SPPG Tembok Dukuh kini dihentikan sementara sampai hasil pemeriksaan laboratorium selesai dilakukan.


Di sisi lain, Wakil Wali Kota Surabaya Armuji meminta masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab insiden sebelum hasil uji laboratorium diumumkan secara resmi.


Meski demikian, Armuji menilai kondisi dapur dan sistem pengolahan makanan di lokasi secara umum sudah memenuhi standar kebersihan dan kelayakan. Pemerintah Kota Surabaya bersama Tim Inafis Polrestabes Surabaya juga telah melakukan inspeksi langsung di lokasi dapur MBG untuk mendalami penyebab kejadian tersebut. (Rhz2797)