Notification

×

Iklan

Iklan

Nitrit di Menu MBG Cianjur Bikin Geger, Kadarnya Disebut 169 Kali Melebihi Batas Aman

Mei 11, 2026 Last Updated 2026-05-11T09:40:03Z


Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Cianjur, Jawa Barat, menjadi sorotan setelah muncul dugaan kasus keracunan massal yang menyeret ratusan penerima manfaat. Hasil investigasi terbaru dari Tim Independen Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkap adanya kandungan kimia nitrit dalam jumlah sangat tinggi pada salah satu menu makanan yang disajikan.


Tim investigasi menyebutkan bahwa kasus terjadi di SPPG Leles 2, Sukasirna, Cianjur, selama periode 13 hingga 18 April 2026. Dari total 2.174 penerima manfaat program MBG, sebanyak 143 orang dilaporkan mendatangi fasilitas kesehatan karena mengalami keluhan kesehatan usai mengonsumsi makanan.


Meski dugaan awal mengarah pada kontaminasi bakteri, hasil pemeriksaan laboratorium justru menunjukkan hal berbeda. Berdasarkan uji dari Labkesda Jawa Barat, menu MBG yang disajikan pada 13, 14, 15, 17, dan 18 April 2026 dinyatakan negatif dari bakteri berbahaya seperti Salmonella sp, Staphylococcus aureus, E. coli, dan Bacillus cereus.


Namun, temuan mengejutkan muncul pada menu tanggal 16 April 2026, tepatnya pada hidangan tumis pakcoy. Tim menemukan kadar nitrit yang disebut mencapai 169 kali di atas ambang batas aman menurut standar Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA).


Dalam laporan yang disampaikan melalui akun Instagram resmi BGN, Arie Karimah Muhammad menjelaskan bahwa tingginya kandungan nitrit menjadi perhatian serius dalam evaluasi program MBG di wilayah tersebut.


“Tidak ditemukan cemaran bakteri pada sebagian besar menu MBG di SPPG Leles 2, namun terdapat kandungan nitrit sangat tinggi pada menu tumis pakcoy,” demikian isi laporan investigasi yang dipublikasikan BGN.


Di sisi lain, Tim Investigasi Independen juga menegaskan bahwa kasus meninggalnya balita berinisial MBA berusia dua tahun pada 27 April 2026 tidak berkaitan dengan konsumsi menu MBG. Kesimpulan itu diambil setelah diketahui makanan terakhir yang dikonsumsi korban berasal dari menu tanggal 14 April yang telah dinyatakan aman dari bakteri maupun kandungan nitrit.


BGN menilai persoalan kandungan nitrit tinggi pada sayuran perlu mendapat perhatian lintas sektor. Koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Kementerian Pertanian, dinilai penting agar kasus serupa tidak kembali terjadi dalam pelaksanaan program MBG ke depan.


Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pengawasan kualitas bahan pangan dalam program makanan massal harus dilakukan secara ketat, bukan hanya dari sisi kebersihan bakteriologis tetapi juga kandungan kimia yang berpotensi membahayakan kesehatan. (Rhz2797)