Notification

×

Iklan

Iklan

Debu Proyek PSEL Bikin Warga Bantargebang Menderita, Pedagang Rugi hingga Anak Sesak Napas

Juni 26, 2026 Last Updated 2026-06-26T01:02:21Z


Aktivitas pembangunan Proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di kawasan Bantargebang, Kota Bekasi, menuai keluhan dari warga. Selama hampir dua pekan terakhir, kepulan debu yang berasal dari aktivitas pengurukan tanah disebut mengganggu kesehatan masyarakat sekaligus berdampak pada aktivitas ekonomi para pedagang di sekitar lokasi proyek.


Warga yang tinggal di sepanjang Jalan Pangkalan 5, Kelurahan Cikiwul, Kecamatan Bantargebang, mengaku setiap hari harus menghadapi debu tebal yang beterbangan saat truk pengangkut material melintas. Kondisi tersebut semakin parah ketika cuaca panas dan musim kemarau.


Debu Diduga Memicu Gangguan Kesehatan


Tia (41), seorang pedagang makanan yang berjualan di tepi Jalan Pangkalan 5, mengaku menjadi salah satu warga yang paling terdampak. Menurutnya, debu dari tanah merah yang berceceran di jalan sering kali beterbangan hingga masuk ke warung dan rumahnya.


Ia mengaku mengalami gangguan kesehatan berupa batuk, sesak napas, hingga gatal-gatal, terutama saat malam hari setelah beraktivitas di lingkungan yang dipenuhi debu.


Keluhan serupa juga dirasakan warga lainnya. Bahkan, sejumlah anak-anak dan balita di sekitar lokasi disebut mengalami gangguan pernapasan akibat paparan debu yang terus berlangsung setiap hari.


Rinto (60), pemilik usaha tambal ban di kawasan tersebut, mengatakan kini dirinya tidak pernah beraktivitas tanpa menggunakan masker. Menurutnya, debu yang terhirup membuat tenggorokan terasa tidak nyaman dan memicu batuk berkepanjangan.


Sementara itu, seorang pekerja bernama Yano (50) mengaku sempat mengalami sesak napas setelah terlalu lama berada di area yang dipenuhi debu. Ia berharap pengendalian debu segera dilakukan agar kondisi tidak semakin memburuk.


Truk Material Beroperasi Siang dan Malam


Menurut warga, aktivitas pengurukan tanah tidak hanya berlangsung pada malam hari, tetapi juga sejak siang hingga sore. Banyaknya kendaraan berat yang keluar masuk proyek menyebabkan tanah berceceran di sepanjang jalan dan berubah menjadi debu saat cuaca kering.


Akibatnya, rumah, warung, hingga tempat usaha warga terus dipenuhi lapisan debu. Tia mengaku harus mengepel lantai, membersihkan meja, kaca, dan peralatan makan berkali-kali dalam sehari karena debu kembali menempel hanya beberapa saat setelah dibersihkan.


Hal yang sama dirasakan Rinto. Ia bahkan menyebut tempat usahanya harus disapu hingga belasan kali setiap hari agar tetap layak digunakan melayani pelanggan.


Omzet Pedagang Menurun


Selain mengganggu kesehatan, kondisi tersebut juga berdampak pada pendapatan pelaku usaha kecil di sekitar proyek.


Tia mengungkapkan omzet warung makan miliknya turun sekitar 20 persen sejak proyek pengurukan dimulai. Banyak pelanggan memilih membeli makanan untuk dibawa pulang dibanding makan di tempat karena merasa kurang nyaman dengan kondisi yang berdebu.


Meski demikian, ia tetap bertahan berjualan karena usaha tersebut menjadi sumber penghasilan utama keluarganya.


Warga Minta Jalan Disiram Lebih Rutin


Warga berharap pihak pelaksana proyek lebih serius mengendalikan debu dengan melakukan penyemprotan dan pembersihan jalan secara rutin, terutama pada pagi dan sore hari.


Menurut mereka, selama hampir dua pekan terakhir, penyiraman jalan baru dilakukan beberapa kali sehingga dinilai belum cukup mengurangi debu yang terus beterbangan.


Keluhan tersebut juga telah disampaikan melalui pengurus RT dan RW setempat, namun warga menilai penanganannya masih belum maksimal.


DLH Bekasi Klaim Sudah Lakukan Penanganan


Menanggapi berbagai keluhan tersebut, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi menyatakan telah melakukan pembersihan serta penyemprotan jalan guna mengurangi dampak debu dari aktivitas proyek.


Kepala DLH Kota Bekasi, Kiswatiningsih, menjelaskan bahwa pengurukan tanah merupakan bagian dari tahap persiapan pembangunan PSEL Bantargebang menjelang pelaksanaan groundbreaking yang dijadwalkan berlangsung pada 8 Juli 2026.


Pemerintah Kota Bekasi juga meminta pihak pelaksana mempercepat proses pengurukan agar selesai sebelum 6 Juli 2026 sehingga gangguan terhadap masyarakat dapat diminimalkan.


DLH memastikan akan terus memantau aktivitas proyek, termasuk pengendalian debu, kebersihan jalan, serta aspek keselamatan pengguna jalan selama proses pembangunan berlangsung.


Sementara itu, hingga laporan ini disusun, pihak Dinas Perhubungan Kota Bekasi belum memberikan tanggapan terkait pengaturan operasional truk pengangkut material yang melintas di kawasan tersebut.

(RHz2797)