Notification

×

Iklan

Iklan

Bongkar Dinding Rumah Wamen, Aparat Kaget Temukan Uang Tunai Rp251 Miliar dan Rolex Emas

Juli 02, 2026 Last Updated 2026-07-02T11:53:23Z

Operasi pemberantasan korupsi yang tengah digencarkan pemerintah Irak kembali menghebohkan publik. Kali ini, aparat menemukan uang tunai senilai sekitar US$14 juta atau setara Rp251 miliar yang disembunyikan di balik dinding rumah Wakil Menteri Perminyakan untuk Urusan Distribusi, Ali Maarij Al Bahadly.


Penggerebekan berlangsung pada akhir pekan lalu sebagai bagian dari penyelidikan dugaan tindak pidana korupsi yang melibatkan pejabat tinggi negara. Penemuan tersebut menjadi salah satu hasil terbesar dalam kampanye antikorupsi yang dijalankan pemerintahan baru Irak.


Menurut keterangan Pengadilan Kriminal Pusat untuk Korupsi Irak, uang yang ditemukan terdiri dari sekitar US$11 juta dalam mata uang dolar AS dan 4 miliar dinar Irak, yang jika dikonversi bernilai sekitar US$3 juta.


"Uang tunai tersebut ditemukan selama penyelidikan awal," ujar hakim ketua Pengadilan Kriminal Pusat untuk Korupsi Irak, seperti dikutip The National News, Kamis (2/7/2026).


Uang Disimpan di Balik Dinding Rumah


Dokumentasi yang dirilis Dewan Kehakiman Irak memperlihatkan momen penyelidik membongkar dinding di area kolam renang rumah Ali Al Bahadly menggunakan palu bor.


Setelah dinding berhasil dibuka, petugas menemukan sejumlah koper berisi tumpukan uang dolar AS dan dinar Irak yang telah diikat rapi. Selain uang tunai, aparat juga menemukan beberapa kotak barang mewah, termasuk sebuah jam tangan Rolex emas.


Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa rumah tersebut digunakan sebagai lokasi penyimpanan aset hasil dugaan tindak pidana korupsi.


Ditangkap dalam Operasi Besar Pemerintah Baru Irak


Ali Maarij Al Bahadly diketahui menjabat sebagai Wakil Menteri Perminyakan yang bertanggung jawab mengawasi distribusi dan penjualan bahan bakar olahan di Irak. Posisi tersebut dinilai sangat strategis karena berkaitan langsung dengan perusahaan distribusi, pedagang bahan bakar swasta, hingga penentuan kuota distribusi ke berbagai provinsi.


Saat ini Al Bahadly telah ditangkap dan menjalani proses hukum di Pengadilan Pidana Anti-Korupsi Pusat di Baghdad yang memang menangani perkara korupsi pejabat tingkat tinggi.


Kasus ini merupakan bagian dari operasi besar yang diperintahkan Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi, yang resmi menjabat pada pertengahan Mei 2026. Dalam salah satu operasi sebelumnya, pemerintah mengklaim berhasil menangkap 47 tersangka korupsi hanya dalam satu hari, termasuk pejabat kabinet dan anggota parlemen.


Pemerintah Klaim Serius Berantas Korupsi


Sejak dilantik, pemerintahan Ali al-Zaidi mengaku telah berhasil menyita berbagai aset hasil korupsi, mulai dari miliaran dinar Irak hingga sejumlah properti di Baghdad maupun luar negeri. Beberapa pejabat juga telah dijatuhi hukuman penjara dalam kasus serupa.


Langkah tersebut dilakukan untuk merespons tingginya tuntutan masyarakat agar pemerintah lebih tegas memberantas korupsi yang selama bertahun-tahun menjadi persoalan serius di Irak. Organisasi Transparency International juga kerap menempatkan korupsi sebagai salah satu tantangan terbesar bagi tata kelola pemerintahan negara tersebut.


Pengamat Masih Meragukan Hasil Akhir


Meski operasi antikorupsi mendapat perhatian luas, sejumlah analis menilai keberhasilannya masih perlu dibuktikan dalam jangka panjang.


Peneliti dari Arab Centre for Research and Policy Studies, Harith Hasan, menilai kampanye semacam ini berpotensi kehilangan momentum apabila mulai menghadapi tekanan politik maupun kepentingan elite.


Ia memperkirakan penegakan hukum dapat melambat ketika biaya politik dan keamanan meningkat. Namun demikian, Hasan juga menyebut masih ada peluang pemerintah melakukan penangkapan tambahan dalam waktu dekat apabila komitmen pemberantasan korupsi tetap dipertahankan.


Kasus penemuan uang tunai ratusan miliar rupiah di balik dinding rumah seorang wakil menteri kini menjadi sorotan publik internasional dan dipandang sebagai ujian besar bagi keseriusan pemerintah Irak dalam membersihkan praktik korupsi di lingkungan pemerintahan.(Rhz2797)