Nilai tukar rupiah masih belum mampu bangkit pada perdagangan Kamis (8/1/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot dibuka melemah di level Rp16.793 per dolar Amerika Serikat (AS). Pergerakan ini menunjukkan tekanan terhadap mata uang Garuda masih berlanjut sejak awal tahun 2026.
Pelemahan rupiah hari ini membuat posisinya semakin mendekati level psikologis Rp16.800 per dolar AS. Level tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena mencerminkan tekanan yang cukup dalam di pasar valuta asing, sekaligus menjadi indikator sentimen global dan domestik yang belum sepenuhnya kondusif.
Rupiah Hari Ini Masih Dalam Tren Pelemahan
Sepanjang pembukaan perdagangan, rupiah belum menunjukkan tanda-tanda penguatan berarti. Tekanan yang terjadi mencerminkan kehati-hatian investor dalam menempatkan dana di aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti Indonesia.
Penguatan dolar AS di pasar global menjadi salah satu faktor utama yang membebani pergerakan nilai tukar rupiah. Dolar AS masih menjadi aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi global, sehingga permintaannya tetap tinggi.
Selain itu, pelaku pasar juga masih mencermati arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (The Fed). Ekspektasi suku bunga AS yang bertahan tinggi dalam waktu lebih lama membuat arus modal cenderung mengalir ke aset berbasis dolar.
Sentimen Global Tekan Kurs Rupiah
Tekanan terhadap kurs rupiah tidak terlepas dari kondisi global. Ketidakpastian ekonomi dunia, tensi geopolitik, serta perlambatan ekonomi di sejumlah negara utama membuat investor bersikap lebih defensif.
Situasi tersebut berdampak langsung pada mata uang negara berkembang. Rupiah termasuk salah satu mata uang yang rentan terhadap perubahan sentimen global, terutama ketika dolar AS mengalami penguatan signifikan.
Di sisi lain, volatilitas pasar keuangan global juga membuat pelaku pasar memilih untuk menahan posisi atau menerapkan strategi wait and see. Hal ini menyebabkan ruang penguatan rupiah menjadi terbatas dalam jangka pendek.
Faktor Domestik Ikut Membayangi
Dari dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati sejumlah faktor domestik yang berpotensi memengaruhi pergerakan rupiah. Kinerja neraca perdagangan, inflasi, serta kebijakan Bank Indonesia (BI) menjadi perhatian utama.
Bank Indonesia sejauh ini terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui berbagai instrumen kebijakan. Namun, tekanan eksternal yang cukup kuat membuat ruang intervensi menjadi lebih terbatas.
Meski demikian, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih relatif solid. Pertumbuhan ekonomi yang stabil serta inflasi yang terkendali menjadi penopang utama agar pelemahan rupiah tidak berlangsung terlalu dalam.
Level Rp16.800 Jadi Perhatian Pasar
Mendekatinya rupiah ke level Rp16.800 per dolar AS menjadi sorotan tersendiri. Level ini kerap dianggap sebagai batas psikologis yang dapat memengaruhi persepsi pasar.
Apabila rupiah menembus level tersebut, bukan tidak mungkin volatilitas akan meningkat. Namun, jika mampu bertahan dan kembali menguat, sentimen positif berpotensi kembali muncul di pasar.
Pelaku pasar disarankan untuk tetap mencermati pergerakan rupiah secara cermat, terutama dalam jangka pendek. Fluktuasi nilai tukar masih berpotensi terjadi seiring dinamika global yang cepat berubah.
Prospek Rupiah ke Depan
Ke depan, arah pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada perkembangan global dan respons kebijakan domestik. Rilis data ekonomi penting, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, berpotensi memicu pergerakan signifikan di pasar valuta asing.
Investor juga akan mencermati sikap Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Konsistensi kebijakan dan komunikasi yang kuat diharapkan mampu meredam gejolak berlebihan di pasar.
Untuk sementara, rupiah masih berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan melemah. Namun, peluang penguatan tetap terbuka apabila sentimen global membaik dan tekanan terhadap dolar AS mulai mereda.

