Usia satu hingga tiga tahun merupakan fase penting dalam perkembangan komunikasi anak. Pada tahap ini, batita mulai mengekspresikan kebutuhan, emosi, dan keinginannya melalui kata-kata sederhana, suara, maupun bahasa tubuh. Tak jarang, orangtua merasa khawatir ketika anak terlihat lebih pendiam dibandingkan teman seusianya.
Terapis wicara sekaligus penulis Path for Words: Five-Minute Language Learning Activities for Children Ages One to Three Years, Marie Martinez, menegaskan bahwa orangtua tidak perlu panik. Menurutnya, kemampuan komunikasi batita dapat dilatih melalui aktivitas sehari-hari tanpa perlu alat belajar khusus atau program mahal. Berikut lima cara sederhana yang bisa diterapkan orangtua untuk membantu meningkatkan kemampuan komunikasi batita.
1. Mulai dengan Mendengarkan Anak
Mengajarkan anak berbicara bukan hanya soal sering mengajak bicara, tetapi juga tentang kesediaan orangtua untuk mendengarkan. Dengan memperhatikan ocehan, suara, dan bahasa tubuh anak, orangtua dapat memahami pola komunikasi yang sedang berkembang.
Marie Martinez menyarankan orangtua meluangkan waktu khusus, misalnya lima menit, untuk benar-benar mengamati dan mendengarkan anak. Catatan sederhana tentang kata, gerakan, atau kebiasaan anak dapat membantu memantau perkembangan bahasa sekaligus menjadi bahan diskusi dengan tenaga medis bila diperlukan.
2. Manfaatkan Aktivitas Rumah Tangga
Pekerjaan rumah seperti mencuci piring, melipat pakaian, atau menyapu lantai dapat menjadi media belajar bahasa yang alami. Orangtua bisa menyebutkan nama benda, warna, atau aktivitas yang sedang dilakukan agar anak terbiasa mengenali kosakata baru.
Kebiasaan ini membantu anak memahami bahwa setiap benda dan tindakan memiliki nama. Jangan lupa memberikan apresiasi saat anak mencoba meniru kata atau gerakan, karena respons positif dapat meningkatkan kepercayaan diri anak untuk berkomunikasi.
3. Gunakan Waktu Perjalanan untuk Mengobrol
Perjalanan dengan mobil atau transportasi umum bisa menjadi momen berharga untuk berinteraksi. Orangtua dapat mengajak anak berbicara tentang apa yang terlihat di luar, tujuan perjalanan, atau suasana hati mereka.
Mendengarkan musik bersama juga bisa menjadi sarana belajar. Memberi anak pilihan lagu, mengajak bernyanyi, atau menirukan gerakan sederhana dapat membantu anak mengenali ritme bahasa dan memperkaya kosakatanya.
4. Jadikan Waktu Makan Lebih Interaktif
Waktu makan bukan sekadar rutinitas, tetapi juga kesempatan untuk melatih kemampuan bahasa. Orangtua dapat menyebutkan nama makanan, alat makan, serta mengajak anak berinteraksi melalui pertanyaan sederhana dan gestur.
Pendekatan ini membantu anak mengaitkan kata dengan objek nyata, sekaligus memberi ruang bagi mereka untuk meniru kata atau gerakan sebagai bentuk komunikasi awal.
5. Pahami Emosi sebagai Bentuk Komunikasi
Batita tidak selalu mampu menyampaikan perasaan dengan kata-kata. Tangisan, ekspresi emosi, atau tantrum sering kali menjadi cara anak mengungkapkan kebutuhan. Orangtua disarankan tetap tenang dan mencoba memahami pesan di balik perilaku tersebut.
Mengajarkan satu kata atau gerakan sederhana untuk mewakili emosi, seperti marah atau sedih, dapat membantu anak belajar mengekspresikan perasaannya dengan lebih baik dan mengurangi ledakan emosi di kemudian hari.
Setiap anak memiliki ritme perkembangan komunikasi yang berbeda. Dengan pendampingan yang konsisten, penuh kesabaran, dan responsif terhadap kebutuhan anak, orangtua dapat membantu batita tumbuh menjadi komunikator yang percaya diri. Kuncinya terletak pada kehadiran dan interaksi sederhana dalam keseharian, bukan pada metode yang rumit.
