Notification

×

Iklan

Iklan

Bukan Cuma Tahan Lapar! Psikiater Ungkap Cara Puasa Latih Otak Kendalikan Emosi

Februari 22, 2026 Last Updated 2026-02-22T07:12:58Z

Puasa selama Ramadan bukan hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga berperan penting dalam melatih pengendalian emosi. Praktik menahan lapar, haus, dan berbagai dorongan lainnya ternyata berpengaruh langsung pada cara otak mengatur respons emosional.


Psikiater dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, menjelaskan bahwa puasa merupakan bentuk latihan pengendalian diri yang efektif untuk membangun kestabilan emosi.


Menurutnya, kebiasaan menahan dorongan selama berpuasa membantu otak agar tidak bereaksi secara spontan terhadap situasi yang memicu emosi.


Apa Itu Regulasi Emosi?


Regulasi emosi adalah kemampuan seseorang untuk mengelola perasaan tanpa kehilangan kendali. Setiap orang tentu pernah merasa marah, kecewa, cemas, atau lelah. Namun, persoalan muncul ketika emosi tersebut langsung dilampiaskan tanpa dipertimbangkan terlebih dahulu.


Puasa mengajarkan individu untuk menahan dorongan, termasuk dorongan emosional. Rasa lapar dan ketidaknyamanan tetap dirasakan, tetapi tidak langsung dituruti. Proses inilah yang secara bertahap melatih kontrol diri.


“Puasa melatih hati untuk merespons dengan sadar, bukan sekadar bereaksi,” jelas dr. Lahargo.


Peran Otak dalam Mengendalikan Emosi


Secara ilmiah, kemampuan menahan dorongan berkaitan dengan bagian otak yang disebut prefrontal cortex. Area ini berfungsi sebagai “rem” yang membantu seseorang berpikir sebelum bertindak.


Ketika seseorang menahan diri, bagian otak tersebut bekerja lebih aktif. Akibatnya, respons yang biasanya spontan berubah menjadi lebih terarah dan terkontrol.


Latihan ini tidak hanya berlaku saat menahan lapar, tetapi juga ketika menghadapi konflik, tekanan pekerjaan, atau situasi yang memancing emosi.


Menunda Reaksi, Bukan Memendam Perasaan


Menahan diri saat puasa bukan berarti memendam emosi tanpa penyelesaian. Regulasi emosi berarti memberi jeda sebelum merespons. Seseorang tetap dapat menyadari bahwa dirinya sedang marah atau lelah, tetapi memilih cara yang lebih tepat untuk mengekspresikannya.


Langkah sederhana seperti menarik napas dalam-dalam atau menunda membalas pesan ketika sedang kesal dapat membantu mencegah konflik. Jeda singkat tersebut memberi kesempatan bagi pikiran untuk lebih tenang dan rasional.


Dampak Positif bagi Kesehatan Mental


Kemampuan mengendalikan emosi sangat penting bagi kesehatan mental. Individu yang mampu mengatur reaksinya cenderung lebih stabil dalam mengambil keputusan dan menjaga hubungan sosial tetap harmonis.


Puasa menjadi latihan nyata untuk membangun kebiasaan tersebut. Menahan dorongan setiap hari membantu memperkuat disiplin, kesadaran diri, dan kemampuan mengatakan “cukup” pada keinginan sesaat.


Menurut dr. Lahargo, manfaat ini akan terasa maksimal jika puasa dijalani dengan kesadaran dan pemahaman, bukan sekadar rutinitas.


Dengan begitu, puasa dapat menjadi momen refleksi sekaligus latihan mental agar emosi lebih stabil dan respons dalam kehidupan sehari-hari menjadi lebih bijak.