Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Azis Subekti, menegaskan bahwa anggaran untuk guru dan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak seharusnya dipertentangkan.
Dalam keterangannya, Senin (16/2/2026), Azis menyebut membandingkan anggaran MBG dengan gaji guru sebagai kekeliruan kategoris. Menurutnya, kedua pos anggaran tersebut ibarat hak anak dan hak orang tua yang tidak bisa diadu satu sama lain.
Fondasi SDM Harus Dibangun Bersama
Azis menjelaskan, pendidikan merupakan mandat konstitusional dengan alokasi minimal 20 persen APBN. Anggaran itu dikelola melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, termasuk lembaga terkait lainnya.
Ia menilai angka tersebut bukan sekadar statistik fiskal, melainkan komitmen politik bahwa masa depan bangsa tidak boleh dinegosiasikan.
“Guru adalah jantung pendidikan,” ujarnya. Namun ia juga mengingatkan bahwa sebagian besar anggaran pendidikan terserap untuk belanja pegawai, terutama gaji dan tunjangan guru.
Kesejahteraan Guru dan Tantangan Daerah 3T
Azis menekankan pentingnya kesejahteraan guru sebagai syarat dedikasi berkelanjutan. Namun menurutnya, kesejahteraan saja tidak cukup.
Distribusi guru dinilai masih timpang, terutama di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). Selain itu, infrastruktur pendidikan di sejumlah daerah masih menghadapi persoalan seperti ruang kelas rusak, sanitasi minim, hingga keterbatasan akses internet.
MBG Punya Landasan Moral dan Rasional
Di sisi lain, Azis menyoroti persoalan gizi anak yang tidak bisa diabaikan. Anak yang kekurangan gizi berisiko mengalami gangguan pertumbuhan dan penurunan potensi kognitif.
Karena itu, program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut memiliki landasan moral sekaligus rasional dalam pembangunan manusia.
Menurutnya, mempertentangkan MBG dan pendidikan menunjukkan kegagalan memahami ekosistem pembangunan SDM. Tubuh dan pikiran, kata dia, tidak bisa dipisahkan dalam desain kebijakan publik.
“Guru terbaik pun akan menghadapi batas jika muridnya datang ke kelas dalam kondisi lapar. Sebaliknya, anak yang kenyang tetapi tidak dibimbing guru kompeten juga akan kehilangan arah,” tegasnya.
Tiga Langkah Menuju SDM Unggul
Azis mengusulkan tiga langkah strategis untuk melahirkan sumber daya manusia (SDM) unggul:
Reformulasi anggaran pendidikan berbasis hasil belajar, tidak hanya fokus pada input administratif, tetapi juga peningkatan literasi, numerasi, dan kompetensi masa kini.
Penguatan profesi guru, melalui seleksi meritokratis, pelatihan berkelanjutan, evaluasi adil, serta distribusi merata hingga wilayah terpencil.
Implementasi MBG yang transparan dan akuntabel, berbasis standar gizi terukur sekaligus memberdayakan ekonomi lokal agar menciptakan efek pengganda.
Ia menegaskan, pembangunan manusia adalah proses jangka panjang yang membutuhkan konsistensi, tata kelola bersih, serta kesadaran kolektif bahwa kualitas SDM tidak lahir dari kebijakan yang saling menegasikan.
Dengan demikian, anggaran guru dan MBG seharusnya berjalan beriringan sebagai dua pilar utama dalam membangun generasi masa depan Indonesia.
