Penderita diabetes tak hanya berisiko mengalami gula darah rendah saat berpuasa, tetapi juga lonjakan gula darah atau hiperglikemia. Kondisi ini bisa berbahaya bila tidak dikendalikan dengan baik selama Ramadan.
Dokter spesialis penyakit dalam di RS Raja Ampat, dr. Andi Khomeini Takdir Haruni, Sp.PD(K), mengingatkan bahwa perubahan pola makan serta penyesuaian jadwal obat saat puasa dapat memicu kenaikan gula darah.
Menurutnya, risiko hiperglikemia tetap ada meski seseorang sedang menjalankan ibadah puasa. Karena itu, kontrol gula darah sebelum dan selama Ramadan sangat penting.
Apa Itu Hiperglikemia?
Hiperglikemia adalah kondisi ketika kadar gula darah meningkat melebihi batas normal. Pada penderita diabetes, kondisi ini bisa terjadi akibat:
- Konsumsi makanan berlebihan saat berbuka
- Terlalu banyak takjil tinggi gula
- Pengaturan obat yang tidak sesuai
- Memulai puasa dengan gula darah yang belum stabil
Lonjakan asupan karbohidrat dan gula secara tiba-tiba saat berbuka menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya kadar gula darah.
Tanda-Tanda Gula Darah Naik yang Perlu Diwaspadai
Gejala hiperglikemia sering muncul perlahan sehingga kerap tidak disadari. Berikut beberapa tanda yang perlu dikenali:
- Sering haus (polidipsia)
- Sering buang air kecil (poliuri)
- Nafsu makan meningkat (polifagi)
- Tubuh cepat lelah
- Luka sulit sembuh
Jika dibiarkan, hiperglikemia dapat memperburuk kondisi kesehatan dan meningkatkan risiko komplikasi.
Mengapa Hiperglikemia Bisa Terjadi Saat Puasa?
Selama Ramadan, pola makan berubah menjadi dua waktu utama, yakni sahur dan berbuka. Pada sebagian orang, momen berbuka justru menjadi ajang “balas dendam” dengan mengonsumsi makanan manis dan karbohidrat dalam jumlah besar.
Selain itu, ada pasien yang mengurangi atau mengubah dosis obat tanpa konsultasi dokter. Padahal, penyesuaian obat seperti insulin atau obat oral harus dilakukan sesuai anjuran medis.
Karena itu, pengawasan dokter sebelum dan selama Ramadan sangat dianjurkan, terutama bagi pasien dengan riwayat gula darah tidak stabil.
Kapan Harus Menunda atau Membatalkan Puasa?
Pasien dengan kadar gula darah sangat tinggi, misalnya di atas 250 mg/dL, umumnya disarankan untuk menunda puasa. Jika selama puasa muncul gejala berat atau kondisi memburuk, sebaiknya segera membatalkan puasa dan berkonsultasi ke fasilitas kesehatan.
Keselamatan tetap menjadi prioritas utama dibanding memaksakan diri beribadah dalam kondisi tidak stabil.
Tips Mencegah Hiperglikemia Saat Ramadan
Agar puasa tetap aman bagi penderita diabetes, berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan:
- Atur porsi makan seimbang antara karbohidrat, protein, dan serat.
- Batasi konsumsi takjil manis dan minuman tinggi gula.
- Konsultasikan penyesuaian obat dengan dokter.
- Lakukan pemantauan gula darah secara rutin.
- Kendalikan pola makan agar tidak berlebihan saat berbuka.
Dengan kontrol yang baik dan pengawasan medis, mayoritas penderita diabetes tetap dapat menjalankan puasa dengan aman.
Kunci utamanya adalah disiplin mengelola gula darah dan tidak lepas dari arahan tenaga kesehatan agar ibadah Ramadan berjalan lancar tanpa mengorbankan kesehatan.
