Menjadi orangtua bukan peran yang datang dengan buku panduan pasti. Setiap anak tumbuh dengan karakter, kebutuhan, dan tantangan yang berbeda. Tak sedikit orangtua merasa ragu apakah sudah melakukan yang terbaik.
Padahal, para ahli sepakat bahwa menjadi orangtua yang baik bukan soal sempurna, melainkan tentang kesediaan untuk hadir, belajar, dan bertumbuh bersama anak. Hubungan yang hangat dan sehat bisa dibangun lewat langkah-langkah sederhana namun konsisten.
Berikut 10 cara menjadi orangtua yang lebih dekat dengan anak di berbagai tahap usia.
1. Dengarkan Anak dengan Penuh Kehadiran
Mendengarkan bukan hanya diam saat anak berbicara, tetapi benar-benar hadir secara emosional. Saat anak merasa didengar dan dihargai, rasa aman serta percaya diri mereka tumbuh.
Luangkan waktu untuk mendengar cerita kecil maupun besar. Momen sederhana ini memperkuat ikatan emosional dalam keluarga.
2. Hindari Membandingkan Anak
Setiap anak berkembang dengan ritmenya sendiri. Dokter anak dan penulis The Happiest Toddler on the Block, Harvey Karp, menegaskan bahwa perkembangan anak tidak bisa disamaratakan.
Membandingkan anak dengan saudara atau teman hanya akan memicu rasa tidak aman. Lihat anak secara utuh, termasuk temperamen dan keunikannya.
3. Beri Contoh Lewat Tindakan
Anak belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari. Penulis parenting Elizabeth Pantley menyebut, orangtua mengajarkan sesuatu setiap menit melalui sikap dan perilaku.
Menunjukkan empati, kesabaran, dan cara mengelola emosi jauh lebih efektif daripada sekadar memberi nasihat panjang.
4. Biarkan Anak Belajar dari Kesalahan
Psikiater anak Christopher Lucas menjelaskan bahwa kesalahan membantu anak memahami sebab dan akibat.
Kekecewaan kecil justru melatih ketahanan mental dan membangun rasa percaya diri. Orangtua tidak perlu selalu “menyelamatkan” anak dari setiap masalah.
5. Fleksibel dalam Pola Asuh
Pendekatan yang efektif saat anak balita belum tentu cocok saat mereka remaja. Anak terus berubah, dan orangtua perlu menyesuaikan cara berkomunikasi serta aturan yang diterapkan.
Fleksibilitas membuat hubungan tetap hangat di setiap fase tumbuh kembang.
6. Ajukan Pertanyaan Terbuka
Alih-alih bertanya, “Sekolahnya seru?” cobalah, “Hal apa yang paling menyenangkan hari ini?”
Pertanyaan terbuka mendorong anak bercerita lebih banyak dan membantu orangtua memahami perasaan mereka lebih dalam.
7. Cari Makna di Balik Perilaku Anak
Perilaku yang dianggap “nakal” sering kali merupakan cara anak mengekspresikan emosi yang belum bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Daripada langsung memarahi, coba pahami apa yang sebenarnya mereka rasakan. Pendekatan ini membuat anak merasa dipahami, bukan dihakimi.
8. Validasi Perasaan Anak
Memvalidasi bukan berarti selalu setuju, melainkan mengakui bahwa emosi anak itu nyata dan penting.
Anak yang emosinya diterima cenderung lebih terbuka dan memiliki kemampuan regulasi emosi yang lebih sehat.
9. Dorong Kreativitas Anak
Beri ruang untuk bereksplorasi—melukis, bermain, menari, atau mencoba hal baru. Fokuslah pada usaha, bukan hanya hasil.
Pujian yang tulus atas proses membantu meningkatkan keberanian dan rasa percaya diri anak.
10. Percaya pada Insting Orangtua
Di tengah banjir informasi parenting, orangtua mudah merasa tertekan. Psikolog dan penulis Nurture the Nature, Michael Gurian, menekankan bahwa tidak semua saran cocok untuk setiap anak.
Tidak ada yang lebih mengenal anak selain orangtuanya sendiri. Mempercayai insting membantu orangtua lebih yakin dalam mengambil keputusan.
Orangtua yang Baik Bukan yang Sempurna
Menjadi orangtua adalah perjalanan panjang. Tidak selalu mudah, dan tidak harus selalu benar. Yang terpenting adalah kehadiran, keterbukaan untuk belajar, dan kemauan memahami kebutuhan anak.
Dengan konsistensi dan empati, hubungan yang hangat dan penuh kepercayaan akan tumbuh secara alami di dalam keluarga.
