Suasana Jalan Komodo Raya, Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi, tampak ramai dengan deretan stan takjil selama Ramadan. Di antara lapak UMKM yang berjejer, ada satu stan yang menarik perhatian: dikelola oleh siswa SLB Kembar Karya Pembangunan III.
Dengan senyum ramah, para siswa melayani pembeli menggunakan bahasa isyarat. Mereka menjual aneka makanan dan minuman berbuka puasa yang dibuat sendiri, tentu dengan pendampingan guru.
Program ini bukan sekadar berjualan, tetapi menjadi sarana pembelajaran kemandirian sekaligus upaya menghapus stigma terhadap siswa Sekolah Luar Biasa (SLB).
Belajar dari Produksi hingga Penjualan
Kepala Sekolah SLB Kembar Karya Pembangunan III, Vivi Sukmawati (53), menjelaskan bahwa seluruh produk yang dijual merupakan hasil karya siswa.
Mereka terlibat dalam setiap tahapan, mulai dari berbelanja bahan ke pasar, mengolah makanan, hingga memasarkan produk kepada pembeli di sore hari.
Menurut Vivi, kegiatan ini merupakan inisiatif sekolah untuk menunjukkan bahwa siswa SLB memiliki kemampuan yang tidak berbeda dengan anak-anak lainnya.
Awalnya, program wirausaha ini direncanakan berlangsung selama dua pekan. Namun, melihat antusiasme siswa yang tinggi, sekolah berencana memperpanjang kegiatan hingga satu bulan penuh selama Ramadan.
Melayani dengan Bahasa Isyarat, Bangun Percaya Diri
Meski memiliki keterbatasan, para siswa tetap melayani pembeli dengan penuh percaya diri. Mereka berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat dan dibantu guru jika diperlukan.
Di awal pembukaan, stan tersebut sempat sepi. Namun, setelah masyarakat mengetahui bahwa penjualnya adalah siswa SLB, dukungan mulai berdatangan. Banyak warga sengaja membeli untuk memberi semangat sekaligus apresiasi.
Kegiatan ini bukan hanya melatih keterampilan berdagang, tetapi juga membangun kemampuan komunikasi serta keberanian berinteraksi di ruang publik.
Misi Besar: Kemandirian Setelah Lulus
Program wirausaha ini memiliki tujuan jangka panjang, yakni membekali siswa dengan keterampilan agar mandiri setelah lulus sekolah.
Vivi mengungkapkan, belum semua perusahaan membuka peluang kerja yang luas bagi penyandang disabilitas. Karena itu, sekolah ingin para siswa memiliki bekal untuk menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.
Ia berharap, melalui pengalaman langsung berwirausaha, para siswa mampu percaya diri menentukan masa depan mereka tanpa bergantung sepenuhnya pada orang lain.
Hapus Stigma, Buka Peluang
Kehadiran stan takjil siswa SLB di tengah masyarakat menjadi pesan kuat bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berkarya. Justru, dengan dukungan lingkungan dan kesempatan yang tepat, potensi mereka dapat berkembang maksimal.
Langkah kecil di bulan Ramadan ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan inklusif bukan sekadar wacana, melainkan aksi nyata yang berdampak langsung pada masa depan anak-anak.
