Kabar mengejutkan datang dari industri mainan global. Kekayaan Wang Ning, pendiri Pop Mart, dilaporkan menyusut drastis hingga sekitar US$2,7 miliar atau setara Rp45,87 triliun. Penurunan ini terjadi setelah saham perusahaan anjlok lebih dari 22% di bursa.
Pop Mart, perusahaan berbasis di Beijing, dikenal luas lewat produk mainan koleksi viral seperti Labubu yang sempat menjadi fenomena global.
Saham Turun Meski Kinerja Moncer
Menariknya, penurunan saham ini terjadi di tengah performa keuangan perusahaan yang sebenarnya cukup kuat. Sepanjang 2025, Pop Mart mencatat lonjakan penjualan hingga 184,7% menjadi 37,1 miliar yuan (sekitar US$5,4 miliar).
Tak hanya itu, laba bersih perusahaan juga meningkat hampir empat kali lipat menjadi 13 miliar yuan. Namun, pasar tampaknya memiliki pandangan berbeda.
Investor mulai mencermati tanda-tanda perlambatan pertumbuhan, khususnya di pasar internasional pada kuartal terakhir tahun lalu. Hal ini memicu kekhawatiran terhadap prospek jangka panjang perusahaan.
Kekhawatiran Investor Jadi Pemicu
Analis menilai bahwa meskipun angka pertumbuhan terlihat tinggi, realisasi kinerja masih di bawah ekspektasi pasar. Selain itu, adanya penurunan rasio pembayaran dividen juga menjadi sentimen negatif bagi investor.
Kondisi ini membuat kapitalisasi pasar Pop Mart tertekan, yang secara langsung berdampak pada kekayaan pribadi Wang Ning. Saat ini, total kekayaannya diperkirakan turun menjadi sekitar US$13,6 miliar.
Ketergantungan pada Labubu Jadi Sorotan
Salah satu faktor yang turut disorot adalah ketergantungan besar Pop Mart terhadap popularitas karakter Labubu. Karakter bergaya unik ini memang sempat menjadi tren global, terutama setelah dipopulerkan oleh Lisa yang membagikannya ke jutaan pengikutnya di media sosial.
Namun, seiring waktu, muncul kekhawatiran bahwa popularitas Labubu mulai menurun, sehingga perusahaan perlu mencari sumber pertumbuhan baru.
Strategi Diversifikasi Pop Mart
Menanggapi situasi ini, Wang Ning menegaskan bahwa Pop Mart tidak hanya bergantung pada satu karakter. Perusahaan kini mulai memperluas portofolio dengan menghadirkan karakter baru seperti Twinkle Twinkle.
Selain itu, Pop Mart juga berekspansi ke berbagai lini bisnis lain, termasuk lisensi produk, taman hiburan, hingga kategori baru seperti peralatan rumah tangga.
Meski demikian, Wang menegaskan bahwa perusahaan tidak akan mengejar pertumbuhan agresif yang dapat mengorbankan profitabilitas.
Dari Toko Kecil Jadi Raksasa Mainan
Pop Mart sendiri memulai perjalanan pada 2010 sebagai toko mainan kecil di China. Dalam waktu singkat, perusahaan ini berkembang menjadi pemain global berkat konsep collectible toys dan strategi pemasaran yang kuat.
Pada puncaknya, Wang Ning sempat masuk jajaran orang terkaya di China dengan kekayaan mencapai US$27,5 miliar. Namun kini, tekanan pasar menunjukkan bahwa bisnis berbasis tren tetap memiliki risiko tinggi.
Kejatuhan saham Pop Mart menjadi pengingat bahwa popularitas saja tidak cukup untuk menjaga stabilitas bisnis jangka panjang. Di tengah perubahan selera pasar, inovasi dan diversifikasi menjadi kunci agar tetap bertahan.
