Korea Utara angkat suara terkait serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran yang berujung pada tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Pemerintah di Pyongyang mengecam keras aksi tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan sebuah negara.
Serangan yang dilancarkan Sabtu itu diumumkan secara resmi sehari kemudian. Insiden tersebut langsung memicu reaksi internasional, termasuk dari Korea Utara yang selama ini dikenal sebagai rival lama Amerika Serikat.
Korut Sebut Serangan “Agresi Ilegal”
Melalui pernyataan resmi yang disiarkan oleh Korean Central News Agency (KCNA), juru bicara Kementerian Luar Negeri Korea Utara menyatakan bahwa kampanye militer terhadap Iran merupakan “tindakan agresi yang sepenuhnya ilegal”.
Menurut Pyongyang, langkah Washington dan Tel Aviv merupakan bentuk pelanggaran kedaulatan yang tidak dapat dibenarkan. Pemerintahan Kim Jong Un bahkan menilai tindakan tersebut mencerminkan perilaku “seperti gangster” yang memanfaatkan kekuatan militer demi ambisi hegemonik.
Pernyataan itu juga dikutip oleh Agence France-Presse (AFP), yang melaporkan bahwa Korut melihat serangan tersebut sebagai ancaman terhadap stabilitas kawasan dan tatanan internasional.
Hubungan AS-Korut Kembali Memanas?
Hubungan antara Korea Utara dan Amerika Serikat memang telah lama diwarnai ketegangan, khususnya terkait program nuklir Pyongyang. Meski demikian, dalam beberapa bulan terakhir, Washington disebut berupaya membuka kembali peluang dialog tingkat tinggi.
Presiden AS Donald Trump dilaporkan masih membuka opsi pertemuan puncak dengan Kim Jong Un. Namun, tawaran tersebut sempat diabaikan selama berbulan-bulan oleh Pyongyang.
Menariknya, pekan ini Kim Jong Un menyatakan bahwa kedua negara bisa saja “bergaul” apabila Washington bersedia mengakui status nuklir Korea Utara. Pernyataan ini dinilai sebagai sinyal diplomatik, meski tetap disertai syarat yang berat bagi Amerika Serikat.
Dampak ke Stabilitas Global
Pengamat menilai respons keras Korea Utara berpotensi memperluas ketegangan geopolitik di tengah konflik yang sudah memanas di Timur Tengah. Dengan banyaknya aktor global yang terlibat, risiko eskalasi lintas kawasan pun semakin nyata.
Hingga kini, belum ada tanggapan resmi terbaru dari Washington terkait kecaman Pyongyang. Namun, dinamika politik global diperkirakan akan terus berkembang seiring meningkatnya tekanan diplomatik dan militer di berbagai kawasan.
