Notification

×

Iklan

Iklan

Lebaran Berubah Jadi Duka! Banjir Ciracas Bikin Kue Lebaran Warga Hanyut

Maret 22, 2026 Last Updated 2026-03-22T12:47:51Z


Momen Idul Fitri yang seharusnya penuh kebahagiaan berubah menjadi duka bagi warga Ciracas, Jakarta Timur. Banjir yang datang tiba-tiba membuat suasana Lebaran di sejumlah wilayah, khususnya RW 03, berubah menjadi kepanikan.


Salah satu warga, Slamet (62), mengaku tidak menyangka hujan yang turun sejak siang hari akan berujung pada banjir besar. Awalnya, hujan hanya turun ringan disertai angin, namun lama-kelamaan intensitasnya meningkat hingga menyebabkan air meluap ke permukiman.


Menurut Slamet, air mulai masuk ke rumah secara perlahan sebelum akhirnya naik drastis. Bahkan, ketinggian air di dalam rumah sempat mencapai leher orang dewasa, membuat warga tidak sempat menyelamatkan barang-barang berharga.


Akibatnya, berbagai perabot rumah tangga seperti kasur, furnitur, hingga makanan khas Lebaran ikut terendam. “Kue-kue Lebaran sampai mengambang semua,” ungkapnya, menggambarkan kondisi memilukan yang dialami keluarganya.


Situasi semakin sulit ketika Slamet dan keluarganya terpaksa mengungsi ke masjid pada malam hari. Padahal, sebelumnya mereka masih sempat menerima kunjungan keluarga yang datang untuk bersilaturahmi.


Ia menyebut banjir kali ini merupakan yang terparah dibandingkan kejadian sebelumnya. Biasanya, hujan hanya menyebabkan genangan ringan yang cepat surut, namun kali ini air bertahan lebih lama dan merendam rumah warga.


Banjir diketahui melanda sedikitnya sembilan RW di wilayah Ciracas. Peristiwa ini terjadi akibat meluapnya Kali Cipinang setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut selama beberapa jam.


Camat Ciracas, Panangaran Ritonga, menjelaskan bahwa hujan deras yang terjadi sejak sore hari menyebabkan peningkatan debit air dari wilayah hulu di Cimanggis. Akibatnya, aliran sungai tidak mampu menampung volume air dan meluap ke permukiman warga.


Air mulai meluap sekitar pukul 18.30 WIB dan tidak kunjung surut hingga larut malam. Kondisi ini berbeda dari biasanya, di mana genangan air umumnya surut dalam waktu sekitar dua jam.


Menurut Panangaran, lamanya genangan disebabkan oleh tingginya debit air kiriman serta kapasitas sungai yang terbatas. Hingga saat ini, pihak terkait masih terus memantau kondisi di lapangan.


Warga pun diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi banjir susulan, mengingat curah hujan masih berpotensi tinggi dalam beberapa hari ke depan.


Kejadian ini menjadi pengingat pentingnya penanganan serius terhadap sistem drainase dan sungai, agar bencana serupa tidak kembali terulang di masa mendatang.