Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran mulai memunculkan tekanan politik baru bagi Presiden AS Donald Trump di dalam negeri. Perang yang memicu gejolak ekonomi global itu dinilai berpotensi menjadi bumerang bagi Trump dan Partai Republik menjelang Pemilu Sela di Amerika Serikat.
Salah satu dampak paling terasa dari konflik di Timur Tengah adalah lonjakan harga energi dunia. Harga minyak mentah global bahkan sempat menembus US$100 per barel untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, setelah gangguan pasokan akibat perang serta terganggunya jalur perdagangan energi internasional.
Dampak Ekonomi Bisa Pengaruhi Pemilih
Profesor manajemen politik dari George Washington University, Todd Belt, menjelaskan bahwa kebijakan luar negeri biasanya tidak terlalu memengaruhi pemilu paruh waktu di Amerika Serikat. Namun situasinya bisa berbeda jika konflik tersebut berdampak langsung pada kondisi ekonomi masyarakat.
“Biasanya kebijakan luar negeri tidak memainkan peran besar dalam pemilihan paruh waktu, kecuali ada hubungan langsung dengan bagaimana hal itu memperburuk kehidupan masyarakat,” kata Belt seperti dikutip AFP, Selasa (10/3/2026).
Menurutnya, kenaikan harga energi berpotensi memicu peningkatan biaya hidup masyarakat. Jika harga barang naik lebih cepat dibandingkan pendapatan warga, kondisi tersebut bisa memicu sentimen negatif terhadap pemerintah yang sedang berkuasa.
Situasi ini dapat menjadi tantangan bagi Trump dan Partai Republik yang sebelumnya meraih dukungan besar karena ketidakpuasan publik terhadap kondisi ekonomi pada pemerintahan sebelumnya.
Pemilu Sela Bisa Melemahkan Kekuasaan Presiden
Di Amerika Serikat, Pemilu Sela merupakan pemilihan umum yang digelar di tengah masa jabatan presiden. Pemilu ini sering dianggap sebagai bentuk evaluasi publik terhadap kinerja presiden yang sedang menjabat.
Dalam banyak kasus, partai yang memegang kursi presiden sering kehilangan kursi di Kongres pada pemilu sela karena pemilih ingin menyeimbangkan kekuatan politik.
Meskipun hasil pemilu sela tidak langsung menjatuhkan presiden, kekalahan partai presiden di Kongres dapat melemahkan kekuatan politiknya.
Jika oposisi menguasai Kongres, peluang untuk mengajukan proses impeachment (pemakzulan) bisa terbuka. Namun seorang presiden baru benar-benar dapat dilengserkan jika Senat menyatakan bersalah dengan dukungan dua pertiga suara.
Pemilu sela di Amerika Serikat sendiri dijadwalkan berlangsung pada 6 November mendatang.
Survei: Popularitas Trump Menurun
Sejumlah survei terbaru setelah meningkatnya konflik dengan Iran menunjukkan tingkat persetujuan publik terhadap Trump menurun.
Berdasarkan survei YouGov dan The Economist, tingkat persetujuan terhadap Trump turun menjadi sekitar 38 persen, sementara 59 persen responden menyatakan tidak setuju dengan kinerjanya.
Penurunan ini dinilai sebagian analis berkaitan dengan kekhawatiran publik terhadap dampak ekonomi dari konflik yang sedang berlangsung.
Trump Tetap Pertahankan Kebijakan Militernya
Meski menghadapi kritik, Trump tetap membela kebijakan militernya terhadap Iran. Dalam unggahan di media sosial, ia menyebut kenaikan harga minyak sebagai “harga kecil yang harus dibayar” demi menjaga keamanan global dan menghentikan ancaman nuklir Iran.
Namun sejumlah pengamat menilai konflik tersebut bisa memperburuk sentimen publik jika harga energi terus meningkat. Harga bahan bakar sendiri merupakan isu sensitif bagi pemilih Amerika, terutama menjelang pemilihan paruh waktu.
Karena itu, beberapa analis menilai langkah paling aman bagi pemerintah AS adalah mencari solusi diplomatik untuk meredakan konflik.
Seorang mantan pejabat senior pemerintahan yang dikutip CNN International juga menyebut bahwa kondisi pasar energi saat ini dapat mendorong Gedung Putih untuk mengevaluasi kembali skala operasi militer di kawasan Timur Tengah.
Sementara itu, Trump dalam pernyataan terbarunya menyatakan konflik dengan Iran diperkirakan akan segera berakhir. Ia juga memprediksi harga minyak dunia akan kembali turun seiring tercapainya tujuan militer Amerika Serikat.
“Kita mencapai kemajuan besar menuju penyelesaian tujuan militer kita,” ujar Trump.
