Notification

×

Iklan

Iklan

Perang Timur Tengah Memanas, Stok BBM RI Terancam? Ini Jawaban Pemerintah

Maret 03, 2026 Last Updated 2026-03-03T07:41:21Z


Pemerintah memastikan pasokan energi nasional, terutama bahan bakar minyak (BBM), tetap dalam kondisi aman meski konflik di Timur Tengah terus memanas. Ketegangan yang melibatkan Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel memicu kekhawatiran global, termasuk soal distribusi minyak dunia.


Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa pemerintah terus memantau perkembangan situasi geopolitik dan menyiapkan langkah antisipasi sesuai eskalasi konflik.


“Antisipasi tergantung dari situasi perang ini, apakah seperti Ukraina yang berlangsung lama atau perang yang singkat,” ujarnya usai konferensi pers di Jakarta, Selasa (3/3/2026).


MoU Pertamina dengan Perusahaan AS Jadi Penopang Pasokan


Airlangga menegaskan bahwa Indonesia telah memiliki kerja sama strategis untuk menjaga stabilitas suplai energi. Melalui nota kesepahaman (MoU), Pertamina bekerja sama dengan perusahaan energi asal Amerika Serikat seperti Chevron dan ExxonMobil.


Kerja sama ini diyakini mampu membantu menutup kebutuhan energi nasional apabila terjadi gangguan distribusi dari kawasan Timur Tengah.


“Sudah ada MoU Pertamina dengan beberapa perusahaan, dan itu tentu bisa menutup kebutuhan,” kata Airlangga optimistis.


Stok BBM RI Masih Aman di Atas 20 Hari


Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa stok BBM nasional saat ini masih berada dalam batas aman, yakni di atas 20 hari.


Namun, pemerintah tetap waspada terhadap potensi dampak jika Selat Hormuz benar-benar ditutup akibat eskalasi konflik. Selat tersebut merupakan jalur strategis distribusi minyak dunia, dan gangguan di kawasan itu berpotensi memicu lonjakan harga minyak global serta tersendatnya pasokan.


Bahlil menyatakan pihaknya akan melaporkan perkembangan situasi kepada Presiden Prabowo Subianto, khususnya terkait dampak terhadap sektor energi nasional.


“Kita harus mengantisipasi pasokan minyak dunia, karena bagaimanapun Indonesia masih mengimpor sekitar 1 juta barel per hari,” jelasnya.


Rapat Dewan Energi Nasional Bahas Mitigasi


Pemerintah saat ini tengah menghitung dampak langsung dan tidak langsung dari konflik tersebut. Meski belum merinci strategi mitigasi yang akan ditempuh, Kementerian ESDM dijadwalkan menggelar rapat bersama Dewan Energi Nasional untuk membahas langkah konkret menghadapi kemungkinan krisis pasokan.


Langkah ini dinilai penting mengingat Indonesia masih bergantung pada impor minyak mentah dan BBM untuk memenuhi kebutuhan domestik.


Pemerintah Jaga Stabilitas Energi dan Ekonomi


Di tengah ketidakpastian global, pemerintah berupaya menjaga stabilitas pasokan energi agar tidak mengganggu aktivitas ekonomi nasional. Pengamanan stok, diversifikasi sumber impor, hingga diplomasi energi menjadi bagian dari strategi yang disiapkan.


Dengan cadangan BBM yang masih aman dan kerja sama internasional yang telah terjalin, pemerintah optimistis kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi meski tensi geopolitik dunia meningkat.