Situasi di Timur Tengah yang memanas setelah serangan udara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran berdampak langsung pada penerbangan internasional. Sejumlah bandara di kawasan tersebut ditutup sementara dan ratusan jadwal penerbangan dibatalkan.
Akibatnya, sebanyak 58.873 jamaah umrah asal Indonesia tercatat masih berada di Arab Saudi dan terancam mengalami keterlambatan kepulangan ke Tanah Air.
Data tersebut berasal dari Sistem Komputerisasi Pengelolaan Umrah dan Haji Khusus (SISKOPATUH) yang memantau pergerakan jamaah Indonesia di luar negeri.
Pemerintah Minta Jamaah Tetap Tenang
Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Haji dan Umrah RI, Puji Raharjo, mengonfirmasi bahwa pemerintah terus memonitor situasi secara intensif.
“Kami mengimbau kepada seluruh jamaah umrah agar tidak panik. Tetap tenang dan terus berkoordinasi dengan Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) masing-masing untuk memperoleh informasi resmi dan terkini,” ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (28/2) malam WIB.
Ia menegaskan bahwa keselamatan jamaah menjadi prioritas utama pemerintah. Koordinasi terus dilakukan dengan Kantor Urusan Haji (KUH), KJRI Jeddah, serta KBRI Riyadh guna memastikan perlindungan maksimal bagi WNI.
Ratusan Penerbangan Dibatalan
Mengutip laporan AFP per Minggu (1/3/2026), sekitar 966 atau 22,9% dari total 4.218 penerbangan yang dijadwalkan mendarat di negara-negara Timur Tengah pada Sabtu dibatalkan.
Sejumlah maskapai internasional yang menghentikan sementara penerbangan ke dan dari kawasan tersebut antara lain:
- Garuda Indonesia
- Emirates
- Etihad Airways
- Turkish Airlines
Pembatalan ini berdampak luas terhadap mobilitas jamaah umrah, termasuk kepulangan mereka ke berbagai kota di Indonesia.
Potensi Penundaan Kepulangan
Meski demikian, pemerintah memastikan bahwa jamaah tetap dalam kondisi aman dan berada di bawah pengawasan otoritas setempat serta perwakilan RI di Arab Saudi.
Kementerian terkait juga terus berkoordinasi dengan maskapai dan otoritas penerbangan guna mencari alternatif jadwal penerbangan ketika kondisi keamanan sudah memungkinkan.
Situasi ini menjadi perhatian serius mengingat jumlah jamaah yang besar dan momentum Ramadan yang biasanya menjadi puncak keberangkatan maupun kepulangan umrah.
Imbauan untuk Keluarga di Tanah Air
Pemerintah juga mengimbau keluarga jamaah di Indonesia untuk tetap tenang dan mengikuti informasi resmi dari kementerian terkait.
Dengan dinamika geopolitik yang masih berkembang, keputusan pembukaan kembali jalur penerbangan akan sangat bergantung pada stabilitas keamanan di kawasan Timur Tengah dalam beberapa hari ke depan.
Untuk saat ini, otoritas Indonesia menegaskan bahwa fokus utama adalah memastikan keselamatan dan kenyamanan seluruh jamaah umrah Indonesia yang masih berada di Arab Saudi.
