Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memuncak. Tiga kapal dilaporkan menjadi sasaran serangan di kawasan Selat Hormuz pada Minggu (1/3/2026) waktu setempat. Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang memasuki hari kedua.
Serangan tersebut memicu kekhawatiran global, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi dunia. Sekitar seperempat pasokan minyak global dan seperlima distribusi gas alam cair (LNG) dunia melintasi perairan strategis ini setiap harinya.
Kapal Dihantam Proyektil, Mesin Sempat Terbakar
Badan keamanan maritim Inggris, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), melaporkan satu kapal yang berada di lepas pantai Oman terkena hantaman proyektil tak dikenal tepat di atas garis air.
Akibat serangan tersebut, ruang mesin kapal sempat dilaporkan terbakar. Namun, api berhasil dikendalikan dan situasi dinyatakan aman.
Dalam insiden terpisah, sebuah kapal tanker juga dihantam proyektil yang menyebabkan kebakaran di tengah laut. Perusahaan keamanan maritim swasta Vanguard Tech mengidentifikasi lokasi kapal berada sekitar 17 mil laut barat laut Mina Saqr, Uni Emirat Arab.
UKMTO menegaskan bahwa api di kapal tanker tersebut berhasil dipadamkan dan kapal berencana melanjutkan pelayarannya.
Ledakan Dekat Kapal di Perairan Sharjah
Insiden ketiga dilaporkan terjadi sekitar 35 mil laut di sebelah barat kota Sharjah, Uni Emirat Arab. Sebuah proyektil meledak dalam jarak sangat dekat dengan kapal yang tengah melintas.
Meski begitu, otoritas memastikan seluruh kru dari ketiga kapal dalam kondisi selamat dan tidak ada laporan korban jiwa.
Iran Klaim Tanker “Pelanggar” Tenggelam
Berbeda dengan laporan otoritas maritim internasional, televisi pemerintah Iran menyebut salah satu kapal tanker minyak yang melintas disebut sebagai “pelanggar” dan kini dalam kondisi tenggelam.
Tayangan yang disiarkan memperlihatkan asap hitam pekat membumbung tinggi dari kapal yang terbakar. Namun, hingga kini belum ada rincian resmi mengenai identitas kapal maupun konfirmasi independen terkait klaim tersebut.
Sebelumnya, Garda Revolusi Iran dilaporkan menutup jalur pelayaran di Selat Hormuz dan memperingatkan risiko keamanan tinggi di kawasan tersebut. Penutupan dilakukan menyusul eskalasi serangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Dampak ke Perdagangan Energi Dunia
Memanasnya situasi di Selat Hormuz berpotensi mengguncang harga minyak dan gas global. Setiap gangguan di jalur ini kerap memicu lonjakan harga energi serta ketidakpastian pasar internasional.
Pengamat menilai, jika eskalasi terus berlanjut dan jalur pelayaran tetap ditutup, dampaknya bisa meluas hingga ke Asia dan Eropa yang sangat bergantung pada pasokan energi dari kawasan Teluk.
Hingga saat ini, komunitas internasional masih menunggu langkah diplomatik untuk meredakan ketegangan yang berisiko memicu konflik lebih luas di kawasan Timur Tengah.
