Notification

×

Iklan

Iklan

Dunia Deg-degan! Iran Pasang Syarat Baru Buka Selat Hormuz, Ancam Ganggu Jalur Global

April 06, 2026 Last Updated 2026-04-06T01:05:00Z

Ketegangan geopolitik kembali memanas setelah Iran menetapkan syarat baru untuk membuka kembali Selat Hormuz. Kebijakan ini memicu kekhawatiran global karena jalur tersebut merupakan salah satu rute utama distribusi energi dunia.


Langkah ini juga menjadi respons keras terhadap tekanan dari Amerika Serikat, khususnya peringatan yang dilontarkan oleh Donald Trump terkait pembukaan kembali jalur pelayaran tersebut.


Iran Tolak Tekanan AS


Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, secara terbuka menolak ancaman dari pihak AS. Ia menegaskan bahwa tekanan militer maupun ultimatum tidak akan membuat Iran mengubah sikapnya.


Menurutnya, solusi hanya bisa dicapai melalui penghormatan terhadap hak-hak Iran, bukan melalui intimidasi atau ancaman serangan terhadap infrastruktur negara.


Syarat Baru: Harus Ada Kompensasi


Pemerintah Iran kini menetapkan syarat tambahan untuk membuka kembali Selat Hormuz. Melalui juru bicara kepresidenan, Seyyed Mohammad Mehdi Tabatabaei, disampaikan bahwa akses pelayaran hanya akan dibuka jika ada kompensasi finansial atas kerugian yang dialami Iran akibat konflik.


Artinya, jalur perdagangan vital tersebut kini dikaitkan dengan tuntutan ekonomi yang berpotensi memperumit negosiasi internasional.


Ancaman Meluas ke Laut Merah


Tak hanya itu, Iran juga memberi sinyal bahwa konflik bisa meluas ke wilayah lain. Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Akbar Velayati, menyebut kemungkinan gangguan di Selat Bab el-Mandeb di Laut Merah.


Selat Bab el-Mandeb sendiri merupakan jalur penting yang menangani sekitar 12 persen perdagangan global. Jika jalur ini ikut terganggu, dampaknya bisa jauh lebih besar terhadap ekonomi dunia.


Dampak ke Perdagangan dan Energi Global


Gangguan di Selat Hormuz telah lebih dulu memicu lonjakan harga minyak dan gas dunia. Jika ancaman Iran benar-benar meluas ke Laut Merah, maka distribusi energi global berpotensi mengalami krisis yang lebih dalam.


Situasi ini juga diperparah dengan meningkatnya aktivitas kelompok sekutu Iran di kawasan, termasuk di Yaman, yang sebelumnya pernah menargetkan jalur pelayaran strategis.


Ultimatum AS dan Risiko Eskalasi


Sebelumnya, Donald Trump memberikan tenggat waktu kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Ia bahkan mengancam akan mengambil langkah tegas jika Iran tidak mematuhi permintaan tersebut.


Meski sempat membuka peluang diplomasi, pernyataan terbaru dari pejabat Iran menunjukkan sikap yang semakin keras. Kondisi ini meningkatkan risiko eskalasi konflik yang dapat berdampak luas, tidak hanya di kawasan Timur Tengah, tetapi juga terhadap stabilitas ekonomi global. (Rhz2797)