Harga minyak mentah dunia kembali melonjak tajam setelah sempat mengalami penurunan dalam beberapa hari sebelumnya. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berdampak langsung pada pasokan energi global.
Berdasarkan data Refinitiv, harga minyak mentah Brent ditutup di level US$109,28 per barel pada perdagangan Kamis (2/4/2026), atau naik signifikan sebesar 8,03%. Bahkan dalam perdagangan intraday, harga sempat menyentuh US$109,74 per barel—level tertinggi sejak Juni 2022.
Lebih mengejutkan lagi, laporan dari S&P Global menyebutkan bahwa harga minyak Brent di pasar spot sempat melonjak hingga US$141,36 per barel. Lonjakan ini mencerminkan tingginya permintaan pengiriman minyak dalam waktu dekat, sekaligus menandakan ketatnya pasokan fisik di pasar.
Kenaikan tajam ini tidak lepas dari dampak penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Jalur vital ini biasanya dilalui sekitar 20% distribusi minyak dan gas dunia, sehingga gangguan di wilayah tersebut langsung mengguncang pasar energi global.
Sementara itu, harga minyak jenis WTI juga ikut melesat. Pada hari yang sama, WTI ditutup di angka US$111,54 per barel atau naik 11,41%, dengan level tertinggi intraday mencapai US$114 per barel. Kenaikan ini sekaligus mengakhiri tren penurunan harga dalam dua hari sebelumnya.
Pendiri Energy Aspects, Amrita Sen, menilai harga kontrak berjangka saat ini tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi nyata di lapangan. Menurutnya, pasar finansial cenderung “menutupi” krisis pasokan yang sebenarnya sedang terjadi.
Hal serupa juga disampaikan oleh CEO Chevron, Mike Wirth, yang menegaskan bahwa gangguan distribusi akibat penutupan Selat Hormuz memiliki dampak fisik besar yang belum sepenuhnya tercermin dalam harga futures.
Lonjakan harga minyak juga dipengaruhi oleh memanasnya konflik geopolitik. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memperingatkan kemungkinan eskalasi militer lebih lanjut terhadap Iran dalam beberapa pekan ke depan. Pernyataan ini meningkatkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas pasokan energi global.
Di sisi lain, laporan dari kantor berita Iran, IRNA, menyebut adanya upaya kerja sama antara Iran dan Oman untuk mengatur kembali jalur pelayaran tanker melalui sistem pemantauan khusus. Kabar ini sempat meredakan tekanan harga, meski belum memberikan kepastian.
Konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran sejak akhir Februari 2026 telah memicu salah satu krisis energi terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Ketidakpastian mengenai jalur distribusi minyak membuat pasar sangat sensitif terhadap setiap perkembangan situasi.
Analis dari Oxford Analytica, Giles Alston, menilai bahwa negara-negara pengguna jalur tersebut kini harus lebih mandiri dalam mengatur distribusi energi mereka, terutama karena peran Amerika Serikat dinilai mulai berkurang.
Dengan kondisi yang masih fluktuatif, pasar minyak diperkirakan akan tetap bergejolak dalam waktu dekat. Investor dan pelaku industri energi pun terus memantau perkembangan konflik serta potensi dibukanya kembali jalur vital Selat Hormuz. (Rhz2797)
