Perpecahan di antara negara-negara sekutu Barat kian terlihat di tengah memanasnya konflik Iran. Sejumlah negara anggota NATO dilaporkan menolak atau membatasi dukungan terhadap operasi militer yang dilakukan Amerika Serikat bersama Israel.
Situasi ini memicu ketegangan baru dalam hubungan transatlantik. Bahkan, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka melontarkan kritik keras terhadap sekutu-sekutu lamanya yang dianggap tidak solid dalam mendukung aksi militer tersebut.
Prancis Dituding Hambat Operasi Militer
Ketegangan mencuat setelah Prancis dituduh menghalangi jalur logistik militer menuju Israel. Pemerintah AS menilai langkah tersebut menghambat distribusi amunisi yang dibutuhkan dalam konflik melawan Iran.
Melalui media sosialnya, Trump bahkan menyebut Prancis “sangat tidak membantu”. Tuduhan ini langsung mendapat respons dari pemerintah Prancis yang mengaku terkejut, namun menegaskan bahwa kebijakan tersebut konsisten sejak awal konflik berlangsung.
Menurut sejumlah sumber diplomatik, ini menjadi pertama kalinya Prancis mengambil langkah tegas dengan menolak akses wilayah udara untuk kepentingan militer sejak konflik Iran pecah pada akhir Februari 2026.
Italia Batasi Akses Pangkalan Militer
Sikap serupa juga ditunjukkan oleh Italia. Negara tersebut dilaporkan menolak izin bagi pesawat militer AS untuk menggunakan pangkalan udara di Sigonella, Sisilia, sebagai titik transit menuju Timur Tengah.
Meski demikian, Menteri Pertahanan Italia, Guido Crosetto, membantah adanya keretakan hubungan dengan Washington. Ia menjelaskan bahwa penggunaan pangkalan militer tetap memungkinkan, namun harus sesuai prosedur dan izin khusus di luar perjanjian standar.
Spanyol Tutup Wilayah Udara
Sementara itu, Spanyol mengambil langkah lebih tegas dengan menutup wilayah udaranya bagi pesawat militer AS yang terlibat dalam operasi serangan ke Iran.
Perdana Menteri Pedro Sánchez menjadi salah satu pemimpin Eropa yang paling vokal mengkritik aksi militer tersebut. Pemerintah Spanyol menegaskan bahwa fasilitas militer mereka hanya digunakan untuk kepentingan pertahanan kolektif NATO, bukan operasi ofensif.
Inggris Ikut Disorot
Tak hanya negara-negara Eropa kontinental, Inggris juga tak luput dari kritik Trump. Ia menyindir negara tersebut karena dinilai tidak berani terlibat langsung dalam konflik, terutama terkait pengamanan jalur strategis seperti Selat Hormuz.
Pernyataan kontroversial ini semakin memperjelas adanya retakan dalam aliansi Barat yang selama ini dikenal solid dalam berbagai konflik global.
Dampak Geopolitik Makin Terasa
Penolakan sejumlah negara NATO ini mencerminkan perbedaan pandangan yang semakin tajam terkait eskalasi konflik di Timur Tengah. Di satu sisi, Amerika Serikat dan Israel mendorong operasi militer yang lebih agresif, sementara sebagian negara Eropa memilih pendekatan yang lebih hati-hati.
Kondisi ini berpotensi memengaruhi stabilitas geopolitik global, termasuk hubungan antarnegara sekutu dan keamanan kawasan.
Ke depan, soliditas NATO kembali diuji. Dunia kini menanti apakah perbedaan sikap ini akan mereda atau justru berkembang menjadi perpecahan yang lebih besar di tubuh aliansi Barat.
