Notification

×

Iklan

Iklan

21 Tahun Hidup Tanpa Air Bersih, Warga Bekasi Terpaksa Mandi dan Cuci Pakai Air Kali Kotor

Mei 23, 2026 Last Updated 2026-05-23T08:31:25Z

Di tengah pesatnya pembangunan kawasan industri di Kabupaten Bekasi, masih ada warga yang hidup tanpa akses air bersih selama puluhan tahun. Kondisi inilah yang dialami Lulu Tri Rahayu (38), warga Kampung Cabang Pintu Air, Desa Karangasih, Kecamatan Cikarang Utara.


Selama lebih dari 21 tahun, Lulu bersama keluarganya mengandalkan air kali yang keruh dan penuh sampah untuk mandi, mencuci pakaian, hingga kebutuhan rumah tangga sehari-hari.


Di bantaran sungai yang dipenuhi eceng gondok dan limbah, Lulu tampak mencuci pakaian menggunakan papan cuci sederhana. Air sungai yang berwarna keruh itu menjadi satu-satunya sumber air yang bisa digunakan warga sekitar.


“Di sini susah air bersih. Jadi semuanya pakai air kali. Kalau buat minum baru beli air galon,” ujar Lulu saat ditemui di lokasi.


Rumah semi permanen yang ditempati Lulu berdiri di atas lahan milik PJT atau Perum Jasa Tirta. Bangunan-bangunan warga tampak berdempetan dengan dinding kayu dan seng seadanya. Jalan kecil di kawasan itu juga licin ketika hujan turun.


Karena tinggal di atas lahan pengairan yang sewaktu-waktu bisa digusur, sebagian warga memilih tidak membuat sumur ataupun memasang pompa air permanen.


Air Kali Jadi Andalan Sehari-hari


Setiap hari, bantaran kali di kawasan tersebut ramai oleh aktivitas warga. Para ibu terlihat bergantian mencuci pakaian dan peralatan rumah tangga di pinggir sungai sejak pagi hingga sore hari.


Meski kondisi air jauh dari layak, Lulu mengaku dirinya sudah terbiasa menggunakan air kali untuk aktivitas sehari-hari.


Menurutnya, kondisi sungai bahkan sering lebih buruk saat musim hujan. Air berubah hitam, mengeluarkan bau menyengat seperti comberan, dan dipenuhi eceng gondok yang menutupi permukaan kali.


“Biasanya malah lebih bau dan banyak sampah. Ini kebetulan baru dibersihkan jadi agak mendingan,” katanya.


Ketika hujan deras mengguyur, air sungai kerap meluap hingga menggenangi rumah warga. Dalam kondisi tersebut, aktivitas mencuci dan membersihkan rumah terpaksa dihentikan sementara.


Terbentur Kondisi Ekonomi


Bagi Lulu dan keluarganya, membeli air bersih untuk kebutuhan sehari-hari bukan perkara mudah. Penghasilan suaminya yang bekerja serabutan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga.


Karena alasan ekonomi, menggunakan air kali menjadi pilihan yang terpaksa dijalani selama bertahun-tahun.


“Buat kebutuhan sehari-hari saja susah, apalagi beli air terus,” ujar Lulu.


Meski hidup dengan sanitasi yang sangat terbatas, Lulu mengaku dirinya dan keluarga sejauh ini belum mengalami gangguan kesehatan serius seperti diare atau penyakit kulit.


Namun kondisi tersebut tetap menggambarkan sulitnya akses layanan dasar yang masih dialami sebagian warga di kawasan padat penduduk.


Potret Ketimpangan di Tengah Kota Industri


Kisah Lulu menjadi gambaran nyata masih adanya ketimpangan akses air bersih di wilayah perkotaan dan kawasan industri besar seperti Bekasi.


Di tengah deretan pabrik dan pembangunan modern, sejumlah warga ternyata masih bertahan hidup dengan fasilitas sanitasi yang minim.


Meski hidup dalam keterbatasan, aktivitas di bantaran kali tetap berjalan seperti biasa. Anak-anak masih bermain di sekitar sungai, sementara para ibu terus mencuci di aliran air yang sama setiap harinya.


Bagi Lulu, tinggal di bantaran kali bukanlah pilihan hidup ideal. Namun di tengah kondisi ekonomi yang sulit dan ketidakpastian tempat tinggal, ia hanya bisa menjalani hidup dengan apa yang tersedia.(Rhz2797)