Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menjadi sorotan setelah menyerukan sejumlah negara Muslim untuk bergabung dalam Abraham Accords atau Perjanjian Abraham. Pernyataan tersebut disampaikan melalui akun media sosial Truth Social miliknya di tengah pembahasan kesepakatan baru dengan Iran.
Trump menyebut negara seperti Arab Saudi, Qatar, Pakistan, Turki, Mesir, dan Yordania seharusnya ikut menormalisasi hubungan dengan Israel setelah tercapainya kesepakatan dengan Iran. Menurut Trump, langkah tersebut dapat menciptakan stabilitas baru sekaligus memperkuat ekonomi kawasan Timur Tengah.
Berikut lima alasan utama mengapa Trump dinilai ingin mewujudkan tatanan baru melalui Perjanjian Abraham.
1. Menambah Dimensi Baru dalam Negosiasi Iran
Trump disebut ingin memperluas isu negosiasi dengan Iran agar tidak hanya berfokus pada program nuklir dan konflik regional. Dengan memasukkan normalisasi hubungan negara-negara Muslim dengan Israel, ia mencoba menghadirkan narasi diplomasi besar yang bisa dijual sebagai keberhasilan politik internasional.
Analis Timur Tengah menilai strategi ini juga menjadi cara Trump untuk mengalihkan perhatian dari tekanan politik terkait konflik di kawasan, termasuk ketegangan di Selat Hormuz dan perang yang masih berlangsung.
2. Memberi Jaminan Politik untuk Israel
Dorongan terhadap Perjanjian Abraham juga dipandang sebagai upaya menenangkan Israel yang selama ini khawatir terhadap kemungkinan kompromi AS dengan Iran. Dengan semakin banyak negara Muslim menjalin hubungan diplomatik dengan Israel, posisi politik dan keamanan Israel dinilai akan semakin kuat di kawasan.
Trump diyakini sedang mencoba menjaga keseimbangan antara proses negosiasi dengan Iran dan kepentingan strategis Israel sebagai sekutu utama Amerika Serikat di Timur Tengah.
3. Melanjutkan Jejak UEA dan Bahrain
Perjanjian Abraham pertama kali ditandatangani pada 2020 ketika Uni Emirat Arab dan Bahrain sepakat menormalisasi hubungan dengan Israel melalui mediasi AS. Langkah tersebut kemudian diikuti oleh Maroko dan Sudan.
Kesepakatan itu membuka kerja sama ekonomi, teknologi, hingga pertahanan antara negara-negara peserta. Namun situasi kini jauh lebih kompleks setelah konflik berkepanjangan di Gaza dan meningkatnya ketegangan regional.
Di sisi lain, dukungan publik terhadap normalisasi hubungan dengan Israel di beberapa negara Arab masih rendah. Arab Saudi misalnya tetap menegaskan dukungannya terhadap pembentukan negara Palestina sebagai syarat utama perdamaian.
4. Mendorong Tatanan Baru Timur Tengah
Trump juga disebut ingin membangun “tatanan baru” di Timur Tengah melalui integrasi ekonomi dan kerja sama regional yang lebih luas. Menurutnya, Perjanjian Abraham bukan sekadar kesepakatan diplomatik, tetapi fondasi untuk menciptakan kawasan yang lebih stabil dan kuat secara ekonomi.
Ia percaya semakin banyak negara yang bergabung, maka risiko konflik besar di Timur Tengah dapat ditekan. Trump bahkan menyebut kesepakatan tersebut berpotensi menjadi salah satu perjanjian paling bersejarah di kawasan.
5. Menguji Loyalitas Sekutu Amerika Serikat
Pernyataan Trump yang meminta negara-negara sekutu segera menandatangani Perjanjian Abraham juga dianggap sebagai bentuk pengujian loyalitas politik terhadap Amerika Serikat. Ia menilai negara yang menolak bergabung dapat dianggap tidak sepenuhnya mendukung agenda perdamaian yang sedang dibangun Washington.
Trump bahkan menyebut kemungkinan Iran ikut masuk dalam koalisi tersebut apabila kesepakatan besar berhasil dicapai. Menurutnya, hal itu dapat menjadi simbol persatuan baru di Timur Tengah setelah puluhan tahun konflik dan ketegangan geopolitik.
Meski demikian, banyak pengamat menilai rencana tersebut masih menghadapi tantangan besar. Konflik Palestina-Israel, ketegangan antarnegara kawasan, hingga tekanan politik domestik di negara-negara Arab menjadi faktor utama yang dapat menghambat perluasan Perjanjian Abraham dalam waktu dekat.(Rhz2797)
