Seorang pelanggan di Singapura dibuat heran setelah diminta membayar biaya tambahan hanya karena meminta satu mangkuk kecil saat makan di sebuah food court. Biaya tersebut disebut sebagai ongkos pencucian peralatan makan dan langsung memicu perdebatan di media sosial.
Kejadian itu dialami seorang wanita bernama Ms Ou saat makan bersama saudaranya di food court kawasan Lucky Plaza, Singapura. Mereka memesan sup jeroan babi lengkap dengan lauk pendamping dan nasi talas dengan total harga sekitar Rp 162 ribu.
Namun, suasana makan berubah ketika saudara Ms Ou meminta satu mangkuk kecil tambahan untuk berbagi makanan. Permintaan sederhana tersebut ternyata dikenai biaya tambahan oleh pihak kios makanan.
Ms Ou mengaku terkejut karena harus membayar sekitar Rp 3.600 hanya untuk satu mangkuk kecil. Karena merasa keberatan, mereka akhirnya memutuskan membatalkan permintaan tersebut.
Menurutnya, pelanggan yang sudah membeli cukup banyak makanan seharusnya bisa mendapatkan mangkuk tambahan tanpa biaya ekstra. Ia juga menyebut bila aturan itu diinformasikan sejak awal, kemungkinan mereka tidak akan memilih makan di tempat tersebut.
Menanggapi keluhan itu, pemilik kios makanan membantah nominal biaya yang disebut pelanggan. Ia menjelaskan biaya tambahan sebenarnya sekitar Rp 2.400 dan diterapkan untuk membantu menutup biaya operasional, termasuk pencucian piring dan penggunaan utilitas.
Pemilik kios mengatakan harga makanan di tempatnya sudah lebih murah dibanding banyak penjual lain di Singapura. Sup jeroan babi di kios tersebut dijual dengan harga yang dinilai masih terjangkau dibanding restoran sejenis.
Ia juga mengungkapkan bahwa sebelumnya mangkuk tambahan dan isi ulang kuah diberikan gratis kepada pelanggan. Namun, kebijakan itu berubah setelah ada sebagian pengunjung yang dianggap berlebihan dalam meminta perlengkapan tambahan dan kuah berulang kali untuk dibagikan kepada orang lain.
Karena itu, pihak kios memutuskan menerapkan biaya tambahan agar penggunaan perlengkapan makan lebih terkontrol dan tidak membebani operasional usaha.
Perdebatan soal biaya tambahan ini pun memunculkan beragam tanggapan. Sejumlah pedagang kaki lima di Singapura menilai kebijakan tersebut masih masuk akal karena biaya pencucian, air, dan utilitas terus meningkat.
Namun, ada juga pedagang yang memilih tidak mengenakan tarif tambahan untuk mangkuk kecil karena dianggap sebagai bagian dari pelayanan kepada pelanggan.
Kasus ini kembali memicu diskusi soal transparansi biaya tambahan di tempat makan dan pentingnya pelaku usaha memberikan informasi yang jelas kepada pelanggan sebelum transaksi dilakukan. (Rhz2797)
