Notification

×

Iklan

Iklan

Trump Meledak ke Netanyahu, Serangan Israel ke Lebanon Bikin Gedung Putih Geram

Juni 03, 2026 Last Updated 2026-06-03T00:56:46Z

Hubungan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan memanas setelah meningkatnya operasi militer Israel di Lebanon. Ketegangan ini muncul di tengah upaya Washington menjaga stabilitas kawasan Timur Tengah dan melanjutkan jalur diplomasi dengan Iran.


Sejumlah sumber dari pemerintahan AS menyebut Trump meluapkan kemarahannya kepada Netanyahu dalam percakapan telepon yang berlangsung pada awal pekan ini. Presiden AS disebut kecewa karena langkah militer Israel dinilai berpotensi merusak berbagai upaya diplomatik yang sedang dijalankan Washington.


Menurut laporan sejumlah media internasional, Trump mempertanyakan keputusan Israel yang terus meningkatkan serangan terhadap target yang diklaim terkait kelompok Hizbullah di Lebanon. Ia menilai langkah tersebut dapat memperburuk situasi keamanan kawasan dan mengancam gencatan senjata yang selama ini berusaha dipertahankan.


Serangan Israel Dinilai Ganggu Diplomasi AS-Iran


Kemarahan Trump disebut tidak lepas dari kekhawatiran bahwa eskalasi konflik di Lebanon dapat menghambat komunikasi yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran. Pemerintah AS saat ini masih berupaya menjaga jalur negosiasi dengan Teheran meski hubungan kedua negara kerap mengalami pasang surut.


Selain itu, meningkatnya ketegangan antara Israel dan Hizbullah juga dianggap berisiko memicu konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah. Situasi tersebut dapat menyulitkan Washington dalam menjalankan agenda politik luar negerinya.


Trump bahkan disebut mengingatkan Netanyahu bahwa dirinya selama ini telah memberikan dukungan politik yang signifikan kepada Israel di berbagai forum internasional.


Trump Klaim Berhasil Redakan Ketegangan


Di tengah meningkatnya konflik, Trump mengklaim telah melakukan komunikasi intensif dengan berbagai pihak terkait. Dalam pernyataan yang diunggah melalui media sosial, ia menyebut telah berbicara langsung dengan Netanyahu dan memperoleh komitmen bahwa tidak akan ada pengerahan pasukan Israel ke wilayah pinggiran Beirut yang sebelumnya sempat menjadi ancaman.


Trump juga mengaku telah berkomunikasi melalui perantara dengan pihak Hizbullah. Menurutnya, kedua belah pihak sepakat untuk menghentikan aksi saling serang guna mencegah situasi semakin memburuk.


Pernyataan tersebut memunculkan harapan baru terkait kemungkinan meredanya konflik yang dalam beberapa waktu terakhir kembali memanas di perbatasan Israel dan Lebanon.


Netanyahu Tegaskan Operasi Militer Tetap Berjalan


Meski Trump mengklaim adanya kesepakatan penghentian pertempuran, Netanyahu justru menegaskan bahwa Israel akan tetap melanjutkan operasi militernya di Lebanon selatan.


Dalam pernyataannya, Netanyahu menegaskan bahwa pemerintah Israel tidak akan tinggal diam jika Hizbullah terus melakukan serangan terhadap wilayah dan warga negaranya. Ia menegaskan posisi Israel tidak berubah dalam menghadapi ancaman keamanan yang berasal dari kelompok tersebut.


Sikap tegas Netanyahu menunjukkan adanya perbedaan pandangan antara Tel Aviv dan Washington terkait langkah terbaik untuk meredakan ketegangan di kawasan.


Iran Ikut Beri Peringatan Keras


Eskalasi konflik ini juga menarik perhatian Iran yang selama ini dikenal sebagai sekutu utama Hizbullah. Sejumlah pejabat Iran mengeluarkan peringatan keras kepada Israel agar tidak memperluas operasi militernya di Lebanon.


Penasihat pemimpin tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menyatakan bahwa kesabaran Iran memiliki batas. Pernyataan tersebut dipandang sebagai sinyal bahwa Teheran terus memantau perkembangan situasi dan siap mengambil langkah tertentu apabila konflik semakin meluas.


Timur Tengah Kembali di Ujung Ketegangan


Perbedaan sikap antara Trump dan Netanyahu menunjukkan rumitnya dinamika geopolitik di Timur Tengah. Di satu sisi, Amerika Serikat berupaya menjaga stabilitas kawasan dan membuka ruang diplomasi dengan Iran. Namun di sisi lain, Israel tetap menempatkan faktor keamanan nasional sebagai prioritas utama.


Dengan meningkatnya aktivitas militer di Lebanon serta keterlibatan berbagai pihak berkepentingan, dunia kini menyoroti apakah upaya diplomasi mampu meredam konflik atau justru kawasan Timur Tengah kembali memasuki fase ketegangan yang lebih besar. (Rhz2797)