Ketekunan dan semangat pantang menyerah mengantarkan Mutiara Putri Azzahra meraih impiannya menempuh pendidikan di Institut Teknologi Bandung (ITB). Putri bungsu dari pasangan Saptono dan Suci itu berhasil diterima melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), meski berasal dari keluarga sederhana.
Di balik keberhasilannya, tersimpan kisah perjuangan yang penuh pengorbanan. Ayah Mutiara sehari-hari berjualan tahu keliling demi memenuhi kebutuhan keluarga, sementara kondisi ekonomi sempat membuat Mutiara berpikir untuk langsung bekerja setelah lulus sekolah.
Sempat Ingin Bekerja Demi Membantu Orang Tua
Mutiara mengaku sempat mengurungkan niat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Ia merasa kondisi keuangan keluarga belum memungkinkan untuk membiayai kuliah.
Namun, para guru melihat potensi akademiknya dan terus memberikan motivasi agar ia tetap mencoba mendaftar ke perguruan tinggi impiannya. Dorongan tersebut akhirnya membuat Mutiara memberanikan diri mengikuti seleksi masuk ITB.
Ia kemudian berdiskusi dengan sang ayah mengenai jurusan yang sesuai dengan minatnya. Sejak duduk di bangku sekolah, Mutiara memang menyukai mata pelajaran sains, terutama biologi dan kimia. Dukungan keluarga membuatnya mantap memilih ITB sebagai tujuan utama.
Belajar Mandiri Lewat Buku dan YouTube
Keterbatasan ekonomi tidak menyurutkan semangat Mutiara untuk belajar. Karena tidak mampu mengikuti bimbingan belajar berbayar, sang ayah berusaha membelikan buku panduan agar putrinya dapat belajar secara mandiri.
Setiap hari, Mutiara memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk belajar hingga larut malam. Saat menemukan materi yang sulit dipahami, ia mencari penjelasan melalui video pembelajaran di YouTube dan berbagai sumber belajar gratis di internet.
Kedisiplinan dan kerja keras itulah yang akhirnya membuahkan hasil saat pengumuman SNBP.
Aktif Mengajar Mengaji di Tengah Kesibukan
Selain fokus belajar, Mutiara juga aktif mengikuti kegiatan organisasi Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) di sekolah.
Tak hanya itu, sepulang sekolah ia meluangkan waktu mengajar mengaji secara privat kepada anak-anak usia taman kanak-kanak. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari upayanya untuk terus berbagi ilmu sekaligus mengisi waktu dengan kegiatan positif.
Doa Orang Tua Jadi Kekuatan Terbesar
Menjelang pengumuman hasil SNBP, Saptono mengajak putrinya memperbanyak doa, terutama pada malam-malam terakhir Ramadan.
Ia meyakini bahwa usaha harus selalu dibarengi dengan doa dan tawakal. Ketika kabar kelulusan akhirnya datang, rasa syukur langsung menyelimuti keluarga.
Saptono mengaku tak mampu menyembunyikan kebahagiaannya. Baginya, keberhasilan sang putri merupakan bukti bahwa impian besar tetap bisa diraih meski hidup dalam keterbatasan.
KIP Kuliah Ringankan Beban Pendidikan
Setelah dinyatakan diterima di ITB, keluarga sempat memikirkan biaya kuliah yang tentu tidak sedikit. Namun, kekhawatiran itu akhirnya terjawab ketika Mutiara berhasil memperoleh bantuan melalui program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah.
Dukungan tersebut membuatnya dapat menjalani perkuliahan dengan lebih tenang tanpa harus terus memikirkan persoalan biaya pendidikan.
Mutiara juga mengaku sangat bersyukur atas dukungan orang tua, keluarga, guru, teman-teman, hingga para tetangga yang terus memberikan semangat selama perjalanan pendidikannya.
Bertekad Membahagiakan Orang Tua
Keberhasilan diterima di ITB menjadi awal perjalanan baru bagi Mutiara. Ia bertekad memanfaatkan kesempatan tersebut dengan belajar sungguh-sungguh, menyelesaikan kuliah tepat waktu, dan meraih pekerjaan yang layak.
Menurutnya, seluruh perjuangan ini dipersembahkan untuk kedua orang tuanya yang selama bertahun-tahun bekerja keras demi pendidikan anak-anaknya.
Kisah Mutiara menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk meraih pendidikan tinggi. Dengan kerja keras, dukungan keluarga, semangat belajar, serta doa yang tak pernah putus, impian besar tetap dapat diwujudkan.(Rhz2797)
