Narcissistic Personality Disorder (NPD) atau gangguan kepribadian narsistik kerap menjadi topik yang ramai dibicarakan, terutama ketika seseorang menunjukkan perilaku yang dianggap terlalu haus perhatian atau ingin selalu dipuji. Namun, benarkah seseorang bisa dikenali memiliki ciri NPD hanya dari hobi dan kebiasaannya?
Sejumlah psikolog menjelaskan bahwa beberapa perilaku tertentu memang dapat berkaitan dengan sifat narsistik, tetapi kebiasaan sehari-hari tidak bisa digunakan sebagai dasar untuk mendiagnosis seseorang mengalami NPD.
Gangguan kepribadian narsistik merupakan kondisi kesehatan mental yang berkaitan dengan pola menetap, seperti rasa diri yang sangat penting, kebutuhan kuat akan pengakuan, rasa berhak mendapatkan perlakuan khusus, serta kesulitan dalam berempati. Diagnosis tetap harus dilakukan oleh tenaga profesional kesehatan jiwa.
Meski demikian, beberapa kebiasaan berikut kerap dikaitkan dalam pembahasan mengenai sifat narsistik.
1. Gemar Membicarakan Keburukan Orang dan Sulit Melihat Orang Lain Bahagia
Kebiasaan bergosip atau terus-menerus membicarakan kehidupan orang lain terkadang dikaitkan dengan rasa iri dan kebutuhan untuk merasa lebih unggul.
Psikolog klinis Seth Meyers menjelaskan bahwa pada sebagian individu dengan sifat narsistik yang kuat, pengalaman emosional di masa lalu dapat memengaruhi cara mereka merespons keberhasilan atau kebahagiaan orang lain.
Perasaan tersaingi atau terancam oleh pencapaian orang lain dapat memunculkan respons negatif. Namun, penting untuk digarisbawahi bahwa suka bergosip bukan berarti seseorang pasti memiliki NPD.
2. Senang Dikelilingi Orang yang Selalu Mengikuti Keinginannya
Orang dengan kecenderungan narsistik dapat memiliki kebutuhan tinggi terhadap perhatian dan validasi dari lingkungan sekitarnya. Dalam beberapa kasus, mereka mungkin lebih nyaman berada di sekitar orang-orang yang selalu memberikan pujian atau mengikuti keinginannya.
Profesor psikologi Susan Krauss Whitbourne menjelaskan bahwa sifat narsistik dapat berkaitan dengan rasa berhak mendapatkan perlakuan khusus serta reaksi negatif ketika keinginan tidak terpenuhi.
Namun, dinamika hubungan sosial seseorang tentu jauh lebih kompleks. Satu kebiasaan saja tidak cukup untuk menentukan adanya gangguan kepribadian.
3. Terlalu Fokus Menjaga Citra Diri di Media Sosial
Media sosial sering menjadi tempat seseorang menampilkan sisi terbaik dalam hidupnya. Pada individu dengan sifat narsistik tertentu, perhatian terhadap citra diri dan kebutuhan mendapatkan pengakuan dapat terlihat lebih kuat.
Misalnya, seseorang mungkin sangat memperhatikan penampilan, jumlah respons terhadap unggahannya, atau bagaimana orang lain memandang dirinya di dunia maya.
Beberapa penelitian juga membahas hubungan antara aktivitas media sosial, perilaku memamerkan diri, dan sifat narsistik. Namun, rajin mengunggah selfie atau konten olahraga tidak otomatis menjadi tanda NPD karena setiap orang memiliki alasan berbeda dalam menggunakan media sosial.
4. Sulit Melepaskan Hubungan dan Terus Memantau Media Sosial Seseorang
Perilaku terus memantau aktivitas seseorang setelah hubungan berakhir juga pernah dikaji dalam penelitian terkait sifat narsistik dan perilaku intrusif dalam hubungan.
Pada kondisi tertentu, seseorang dengan kecenderungan narsistik mungkin mengalami kesulitan menerima penolakan atau kehilangan karena hubungan tersebut sangat berkaitan dengan cara mereka memandang diri sendiri.
Namun, perilaku seperti terus memantau akun media sosial mantan pasangan bisa memiliki banyak penyebab dan tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan seseorang mengalami gangguan kepribadian tertentu.
Yang terpenting, perilaku yang mengganggu privasi atau membuat orang lain merasa tidak aman perlu dihentikan dan ditangani dengan tepat.
5. Kebiasaan Menghabiskan Waktu Sendiri Bukan Tanda Pasti NPD
Ada pula anggapan bahwa kebiasaan berlama-lama di kamar mandi atau menggunakan waktu sendirian untuk bermain media sosial berkaitan dengan sifat narsistik. Namun, hubungan langsung antara kebiasaan tersebut dan diagnosis NPD tidak bisa disimpulkan secara sederhana.
Penelitian mengenai narsisme memang membahas berbagai aspek perilaku, termasuk pencarian kenikmatan dan hubungan seseorang dengan seksualitas. Meski begitu, hasil penelitian tertentu tidak boleh digunakan untuk menggeneralisasi bahwa setiap orang dengan kebiasaan tertentu pasti memiliki sifat narsistik atau gangguan NPD.
Jangan Mudah Mendiagnosis Orang dari Kebiasaannya
Perlu dipahami bahwa memiliki satu atau beberapa kebiasaan di atas tidak berarti seseorang mengalami Narcissistic Personality Disorder. Sifat narsistik sendiri dapat muncul dalam tingkat yang berbeda pada setiap individu dan tidak selalu berarti adanya gangguan kesehatan mental.
Diagnosis NPD membutuhkan penilaian menyeluruh oleh psikolog atau psikiater. Profesional akan melihat pola perilaku yang berlangsung secara konsisten, dampaknya terhadap kehidupan dan hubungan sosial, serta berbagai faktor lainnya.
Karena itu, istilah NPD sebaiknya tidak digunakan secara sembarangan untuk melabeli pasangan, teman, keluarga, atau orang lain hanya berdasarkan unggahan media sosial maupun kebiasaan sehari-hari.
Mengenali perilaku yang tidak sehat memang penting, terutama jika sebuah hubungan membuat seseorang terus merasa dikendalikan, direndahkan, atau tidak nyaman. Namun, memahami perilaku tersebut tanpa terburu-buru memberikan diagnosis adalah langkah yang jauh lebih bijak.
Jika perilaku seseorang menimbulkan masalah serius dalam kehidupan atau hubungan, berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga profesional kesehatan jiwa dapat menjadi pilihan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih tepat.(Rhz2797)
