Notification

×

Iklan

Iklan

Ikan Tak Masuk Freezer hingga 12 Jam, BGN Ungkap Dugaan Penyebab Insiden MBG di Karo

Agustus 18, 2026 Last Updated 2026-08-18T08:22:38Z

Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkap hasil sementara investigasi insiden keamanan pangan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo, Sumatera Utara.


Kepala BGN Sudaryono menyebut dugaan awal mengarah pada kelalaian dalam proses penyimpanan bahan baku ikan. Sebagian ikan yang akan digunakan untuk menu MBG diduga tidak disimpan di dalam freezer dan dibiarkan pada suhu ruang selama berjam-jam.


Menurut Sudaryono, sekitar 200 hingga 300 ekor ikan tidak masuk ke lemari pembeku. Bahan makanan tersebut kemudian berada di suhu ruang selama sekitar 12 jam atau bahkan lebih.


"Kami coba cek investigasi sementara. Jadi, itu kelalaian ada pada pengolahan. Bahan baku ikan itu sebagian besar dimasukkan ke freezer, tapi ada sekitar 200 sampai 300 ekor yang tidak masuk freezer," ujar Sudaryono saat menjenguk korban di Rumah Sakit Haji Medan, Minggu (16/8/2026).


"Itu kemudian ditaruh di suhu ruangan dalam kurun waktu 12 sampai lebih dari 12 jam," lanjutnya.


BGN Soroti Pentingnya Rantai Dingin


Sudaryono menegaskan bahwa penyimpanan bahan pangan mentah, terutama ikan, harus memperhatikan rantai dingin atau cold chain. Jika tidak ditangani dan disimpan dengan benar, bahan pangan mudah mengalami penurunan kualitas dan berisiko terkontaminasi.


Ia menilai kelalaian dalam proses pengolahan makanan tidak boleh terjadi karena menyangkut keamanan dan keselamatan penerima manfaat program MBG.


"Tidak boleh ada kelalaian, tidak boleh! Zero tolerance, enggak boleh lalai," tegas Sudaryono.


Ia bahkan meminta kepala dapur maupun pihak yang merasa tidak mampu menjalankan prosedur keamanan pangan untuk tidak memaksakan diri bekerja.


Menurutnya, seluruh tahapan pengolahan makanan harus dilakukan secara disiplin agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.


SOP Dapur MBG Diperketat


Sebagai tindak lanjut insiden di Karo, BGN melakukan evaluasi dan memperketat standar operasional prosedur (SOP) keamanan pangan di seluruh fasilitas dapur MBG.


Sudaryono mengatakan sekitar 27.000 kepala dapur di berbagai wilayah Indonesia telah diminta meningkatkan pengawasan terhadap setiap tahapan pengolahan makanan.


Pengawasan tersebut mencakup proses sejak bahan baku diterima, penyimpanan, pengolahan, hingga makanan didistribusikan kepada penerima manfaat.


BGN menekankan bahwa keamanan pangan harus menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan program MBG. Setiap potensi kelalaian harus dicegah agar makanan yang diberikan kepada masyarakat tetap aman untuk dikonsumsi.


Kondisi Korban Mulai Membaik


Sementara itu, kondisi siswa yang menjadi korban dan sempat mendapatkan perawatan intensif di ruang PICU Rumah Sakit Haji Medan dilaporkan mulai membaik.


Sudaryono mengatakan pasien telah menjalani perawatan selama tiga hari. Berdasarkan laporan tim medis, kondisinya menunjukkan perkembangan positif dibandingkan saat pertama kali masuk rumah sakit.


Meski demikian, pasien masih harus menjalani perawatan intensif di ruang ICU. Sudaryono berharap kondisi korban terus membaik sehingga dapat segera dipindahkan ke ruang perawatan biasa.


"Kondisinya di sini sudah dua hari, ini hari yang ketiga. Menurut laporan sudah membaik dibandingkan pertama kali masuk. Tapi memang masih di ICU," ujarnya.


Ia berharap kondisi pasien dapat pulih lebih baik dalam satu hingga dua hari berikutnya.


Insiden di Karo kini menjadi bahan evaluasi bagi pelaksanaan program MBG, khususnya terkait pengelolaan bahan pangan dan penerapan standar keamanan makanan. BGN menyatakan pengawasan harus diperketat agar setiap makanan yang disajikan kepada penerima manfaat memenuhi standar keamanan pangan.(Rhz2797)