Notification

×

Iklan

Iklan

Suhu Indonesia Makin Panas, BMKG Catat 10 Wilayah Tembus 35 Derajat Celsius

Agustus 21, 2026 Last Updated 2026-08-21T08:28:23Z

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap sejumlah wilayah di Indonesia yang mengalami suhu udara cukup tinggi dalam dua hari terakhir. Suhu maksimum tertinggi tercatat mencapai 37,4 derajat Celsius.


Data tersebut berdasarkan hasil pemantauan BMKG pada 20 hingga 21 Agustus 2026 hingga pukul 07.00 WIB. Dari sejumlah wilayah yang dipantau, Stasiun Geofisika (Stageof) Lampung Utara menjadi lokasi dengan suhu tertinggi.


10 Wilayah dengan Suhu Terpanas


BMKG mencatat setidaknya 10 wilayah mengalami suhu maksimum di atas 35 derajat Celsius. Berikut daftar lengkapnya:


  • Stageof Lampung Utara: 37,4 derajat Celsius
  • Stamet Kalimarau: 36,6 derajat Celsius
  • Stamet Syamsudin Noor: 36,5 derajat Celsius
  • Staklim Kalimantan Selatan: 36,4 derajat Celsius
  • Staklim Lampung: 35,6 derajat Celsius
  • Stamet Tanjung Harapan: 35,5 derajat Celsius
  • Stamet Tjilik Riwut: 35,4 derajat Celsius
  • Stamet Mutiara SIS Al Jufri: 35,3 derajat Celsius
  • Stamet Sangia Ni Bandera: 35,3 derajat Celsius
  • Posmet Paloh: 35,2 derajat Celsius


Catatan suhu tersebut menunjukkan kondisi panas yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia dalam periode pemantauan tersebut.


Musim Kemarau Makin Meluas


Selain mencatat suhu tinggi, BMKG juga mengamati musim kemarau yang semakin meluas di berbagai wilayah Indonesia. Kondisi ini tidak terlepas dari dinamika iklim global yang turut memengaruhi pola cuaca di Tanah Air.


Salah satu fenomena yang menjadi perhatian adalah menguatnya indikasi El Nino. Fenomena tersebut mulai menunjukkan kategori kuat berdasarkan perkembangan anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik tengah dan timur.


Indikator Nino 3.4 tercatat berada di atas +2 derajat Celsius, yang menjadi salah satu tanda menguatnya El Nino.


El Nino Bisa Membuat Kemarau Lebih Kering


Menguatnya El Nino berpotensi memberikan pengaruh terhadap kondisi cuaca di Indonesia. Salah satu dampak yang dapat terjadi adalah berkurangnya curah hujan sehingga periode kemarau berpotensi berlangsung lebih kering.


Kondisi tersebut juga diperkuat oleh fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Indeks IOD tercatat berada di angka 0,63.


IOD positif menunjukkan adanya kecenderungan perpindahan suplai uap air dari wilayah Indonesia bagian barat menuju kawasan pesisir timur Afrika. Kondisi ini dapat turut mengurangi ketersediaan uap air di sebagian wilayah Indonesia.


Waspadai Kekeringan dan Karhutla


Kombinasi El Nino yang menguat dan IOD positif berpotensi membuat musim kemarau di Indonesia menjadi lebih kering dibandingkan kondisi normal.


Masyarakat di daerah yang mengalami kemarau panjang perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai dampaknya. Selain kekurangan air, kondisi yang lebih kering juga dapat meningkatkan risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan.


Pemantauan kondisi cuaca dan informasi resmi BMKG menjadi penting agar masyarakat dapat menyesuaikan aktivitas serta mengantisipasi dampak cuaca panas dan kemarau yang terjadi di wilayah masing-masing.(Rhz2797)