Notification

×

Iklan

Iklan

Abu Vulkanik Anak Krakatau Bisa Berdampak ke Kesehatan, Ini 5 Risikonya yang Perlu Diwaspadai

September 06, 2026 Last Updated 2026-09-06T12:30:10Z

 Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau masih menjadi perhatian pada Minggu (6/9/2026). Selain potensi dampak terhadap penerbangan, sebaran abu vulkanik yang terbawa angin juga perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi kesehatan masyarakat di wilayah yang terdampak.


Informasi BMKG pada Minggu (6/9/2026) pukul 08.00 WIB menunjukkan adanya dua klaster sebaran abu vulkanik yang meliputi sejumlah wilayah, termasuk Jakarta, Banten, Jawa Barat, Lampung, dan Bengkulu.


Abu vulkanik memiliki ukuran partikel yang beragam. Sebagian partikelnya dapat berukuran sangat kecil dan masuk ke dalam kategori Particulate Matter (PM) 2,5. Partikel berukuran tersebut dapat mencapai bagian dalam paru-paru hingga alveolus, yaitu bagian paru-paru yang berperan dalam proses pertukaran oksigen dan karbon dioksida.


Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Prof Tjandra Yoga Aditama, menjelaskan bahwa paparan abu vulkanik dapat menimbulkan sejumlah gangguan kesehatan.


Menurutnya, setidaknya terdapat lima dampak kesehatan yang perlu diperhatikan ketika masyarakat terpapar abu vulkanik.


1. Mengganggu Sistem Pernapasan


Dampak yang paling mudah muncul akibat menghirup abu vulkanik adalah gangguan pada saluran pernapasan. Paparan dapat menimbulkan batuk, iritasi tenggorokan, hingga keluhan yang menyerupai bronkitis.


Risiko tersebut dapat menjadi lebih serius pada orang yang sebelumnya sudah memiliki penyakit paru kronis. Paparan partikel abu dapat memperburuk kondisi pernapasan dan memicu munculnya gejala yang lebih berat.


2. Menyebabkan Iritasi Mata dan Kulit


Abu vulkanik tidak hanya berpotensi mengganggu paru-paru. Partikel padat yang terdapat di dalam abu juga dapat menempel pada permukaan kulit dan mata.


Paparan pada mata dapat menyebabkan iritasi dan peradangan. Dalam kondisi tertentu, masyarakat yang terpapar juga dapat mengalami konjungtivitis atau peradangan pada selaput yang melapisi bagian depan mata.


Karena itu, penggunaan pelindung mata ketika kondisi lingkungan dipenuhi abu dapat menjadi salah satu langkah untuk mengurangi paparan langsung.


3. Memicu Gangguan Pencernaan


Abu vulkanik yang mengendap di lingkungan juga berpotensi mencemari makanan dan sumber air. Apabila partikel tersebut tertelan, kondisi ini dapat mengganggu sistem pencernaan.


Masyarakat di wilayah terdampak perlu memberikan perhatian lebih terhadap kebersihan makanan dan air. Makanan sebaiknya terlindungi dari paparan debu, sedangkan sumber air perlu dipastikan tetap aman untuk digunakan.


4. Memperburuk Penyakit Paru yang Sudah Ada


Orang dengan penyakit paru kronis termasuk kelompok yang perlu lebih berhati-hati saat terjadi sebaran abu vulkanik. Partikel halus yang terhirup dapat memperburuk gangguan pernapasan yang sebelumnya sudah dialami.


Masyarakat dengan kondisi tersebut sebaiknya mengurangi paparan langsung, terutama dengan membatasi aktivitas di luar ruangan ketika abu vulkanik sedang berada di udara.


5. Berisiko Menimbulkan Gangguan Pernapasan Berat


Pada paparan yang tinggi, partikel abu vulkanik dapat memberikan tekanan lebih besar terhadap sistem pernapasan. Partikel yang sangat halus berpotensi masuk jauh ke dalam saluran pernapasan dan mencapai bagian paru-paru yang lebih dalam.


Karena tingkat paparan dapat berbeda di setiap wilayah, masyarakat perlu mengikuti informasi kualitas udara dan arahan dari otoritas terkait. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta orang dengan penyakit pernapasan perlu mendapat perhatian khusus.


Cara Mengurangi Paparan Abu Vulkanik


Ketika abu vulkanik terpantau di lingkungan sekitar, masyarakat dapat mengurangi risiko dengan membatasi aktivitas di luar rumah. Jika harus keluar, gunakan masker yang sesuai dan pertimbangkan penggunaan kacamata pelindung untuk mengurangi paparan pada mata.


Pintu dan jendela juga sebaiknya ditutup selama kondisi udara terdampak abu. Lingkungan yang terkena endapan abu perlu dibersihkan secara hati-hati agar debu tidak kembali beterbangan dan terhirup.


Masyarakat juga disarankan terus memantau informasi resmi mengenai perkembangan erupsi Gunung Anak Krakatau dan sebaran abu vulkanik. Jika mengalami keluhan kesehatan yang berat atau memburuk, segera cari pertolongan medis.(Rhz2797)