Notification

×

Iklan

Iklan

Sering Overthinking dan Pikiran Negatif? Studi Ungkap Kaitannya dengan Penurunan Fungsi Otak

September 23, 2026 Last Updated 2026-09-23T07:14:42Z


Kebiasaan memikirkan hal buruk secara berulang atau negative thinking ternyata bukan hanya dapat memengaruhi suasana hati. Pola pikir negatif yang terus berulang juga dikaitkan dengan perubahan pada kemampuan kognitif dan sejumlah penanda biologis yang berkaitan dengan penyakit Alzheimer.


Fenomena tersebut dikenal sebagai repetitive negative thinking (RNT), yakni pola pikiran negatif yang berlangsung berulang, baik dengan terus memikirkan kejadian buruk di masa lalu maupun mengkhawatirkan hal-hal yang belum terjadi.


Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Alzheimer’s & Dementia pada 2020 menemukan adanya hubungan antara tingkat RNT yang lebih tinggi dengan penurunan fungsi kognitif, termasuk kemampuan mengingat. Penelitian tersebut juga menemukan kaitan dengan akumulasi amyloid dan tau di otak.


Penelitian Melibatkan Ratusan Orang


Dalam penelitian tersebut, peneliti mengamati 292 orang dewasa yang secara kognitif masih tergolong normal. Kemampuan kognitif mereka dipantau dari waktu ke waktu untuk melihat perubahan yang terjadi.


Sebagian peserta juga menjalani pemeriksaan PET untuk melihat penanda amyloid dan tau di otak. Selain itu, peneliti menggunakan kelompok lain yang terdiri dari 68 orang untuk mereplikasi temuan terkait amyloid.


Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta dengan tingkat repetitive negative thinking lebih tinggi mengalami penurunan pada kognisi secara keseluruhan. Hubungan juga terlihat pada memori segera dan memori tertunda.


Para peneliti turut menemukan bahwa RNT berkaitan dengan lebih tingginya akumulasi amyloid secara global serta tau pada bagian entorhinal cortex, salah satu wilayah otak yang terlibat dalam proses yang berkaitan dengan penyakit Alzheimer.


Apa yang Dimaksud Repetitive Negative Thinking?


RNT bukan sekadar sesekali memiliki pikiran negatif. Istilah ini merujuk pada kecenderungan seseorang untuk terus terjebak dalam pola pemikiran negatif yang sama.


Contohnya adalah rumination, yaitu berulang kali memikirkan kesalahan, masalah, atau pengalaman buruk yang telah terjadi.


Bentuk lainnya adalah worry, yakni terus memikirkan kemungkinan buruk yang mungkin terjadi di masa depan.


Menurut penelitian, kedua pola tersebut termasuk dalam repetitive negative thinking dan dapat berlangsung dalam jangka panjang.


Bukan Berarti Negative Thinking Menyebabkan Alzheimer


Ada satu hal penting yang perlu diperhatikan agar hasil penelitian tidak disalahartikan.


Studi tersebut menemukan hubungan atau asosiasi, bukan hubungan sebab-akibat. Artinya, penelitian belum membuktikan bahwa kebiasaan berpikir negatif secara langsung menyebabkan seseorang mengalami Alzheimer.


Peneliti juga menyebut masih diperlukan penelitian lanjutan untuk mengetahui apakah mengurangi repetitive negative thinking benar-benar dapat menurunkan risiko Alzheimer di kemudian hari.


Dengan kata lain, seseorang yang sesekali memiliki pikiran negatif atau mengalami masa sulit tidak berarti otomatis memiliki risiko Alzheimer karena hal tersebut.


Penelitian lebih banyak melihat pola berpikir negatif yang berlangsung berulang dan dalam jangka panjang pada kelompok orang dewasa yang lebih tua.


Kenapa Pikiran Negatif Perlu Dikelola?


Meski belum dapat disebut sebagai penyebab langsung Alzheimer, temuan tersebut memberikan alasan untuk lebih memperhatikan kebiasaan berpikir yang terus-menerus negatif.


Selain kaitannya dengan perubahan kognitif, RNT juga berkaitan dengan gejala kecemasan dan depresi. Karena itu, mengelola pola pikiran negatif dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan mental sekaligus mendukung kesehatan otak secara umum.


Peneliti sebelumnya juga menyebut perlunya penelitian mengenai intervensi yang dapat membantu mengurangi RNT, termasuk pendekatan psikologis dan mindfulness, untuk melihat apakah perubahan pola pikir tersebut berdampak terhadap risiko gangguan kognitif.


Jadi, sesekali berpikir negatif adalah hal yang manusiawi. Yang perlu diperhatikan adalah ketika seseorang terus terjebak dalam kekhawatiran atau memutar kembali pengalaman buruk tanpa henti.


Temuan penelitian ini dapat menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan otak tidak hanya berkaitan dengan aktivitas fisik dan pola makan, tetapi juga bagaimana seseorang mengelola stres serta pola pikir dalam kehidupan sehari-hari.(Rhz2797)