Notification

×

Iklan

Iklan

Asap Karhutla Indonesia Tak Lagi Terdeteksi ke Singapura-Malaysia, Australia Masih Terdampak

Oktober 26, 2026 Last Updated 2026-10-26T12:06:18Z


Sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Indonesia menunjukkan perubahan. Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menggunakan citra satelit Himawari-9 pada Senin (26/10/2026) pukul 10.00 WIB, asap tidak lagi terdeteksi menyebar ke Singapura dan Malaysia.


Meski demikian, persoalan kabut asap belum sepenuhnya berakhir. BMKG masih mendeteksi sebaran asap di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua. Bahkan, asap lintas batas masih terpantau bergerak dari Papua Selatan menuju Australia bagian utara.


Kondisi ini menunjukkan bahwa pemantauan karhutla tetap diperlukan, terutama di wilayah yang masih mengalami sebaran asap akibat kebakaran hutan dan lahan.


Asap Karhutla Masih Terdeteksi di Delapan Wilayah Indonesia


Dalam laporan pemantauannya, BMKG menyebutkan asap masih terdeteksi di delapan wilayah, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Maluku, Papua Barat, dan Papua Selatan.


Keberadaan asap di wilayah-wilayah tersebut menjadi perhatian karena pergerakannya dapat berubah mengikuti kondisi atmosfer dan arah angin.


BMKG menjelaskan bahwa sebaran asap bergerak mengikuti pola angin dari arah selatan, barat daya, barat, hingga barat laut. Secara umum, angin di Indonesia saat pemantauan berlangsung bertiup dari timur hingga tenggara menuju barat laut hingga utara.


Perubahan arah angin tersebut dapat memengaruhi wilayah yang terdampak asap karhutla. Karena itu, pemantauan satelit menjadi salah satu instrumen penting untuk mengamati pergerakan asap dan perkembangan kondisi atmosfer.


Asap Lintas Batas dari Papua Nugini Terpantau Menuju Australia


Meski asap tidak lagi terdeteksi mencapai Singapura dan Malaysia, BMKG masih menemukan indikasi sebaran asap lintas batas atau transboundary haze di kawasan Papua.


Berdasarkan laporan tersebut, asap terdeteksi bergerak dari Papua Nugini menuju Papua Selatan, kemudian dari Papua Selatan menuju Australia bagian utara.


Temuan ini memperlihatkan bahwa pergerakan asap tidak hanya berdampak pada wilayah tempat kebakaran terjadi. Dalam kondisi atmosfer tertentu, asap dapat terbawa angin melintasi batas negara hingga mencapai wilayah lain.


Namun, deteksi sebaran asap melalui satelit tidak dengan sendirinya menunjukkan tingkat pencemaran udara atau besarnya dampak kesehatan di wilayah yang dilalui. Penilaian tersebut membutuhkan informasi tambahan, termasuk pengukuran kualitas udara di permukaan.


BMKG Ingatkan Citra Satelit Memiliki Keterbatasan


BMKG juga mengingatkan bahwa tidak semua sebaran asap dapat terdeteksi melalui pemantauan satelit. Ada kondisi tertentu yang membuat asap sulit terlihat pada citra satelit, meskipun keberadaannya masih mungkin terjadi.


Salah satunya adalah ketika asap berada di bawah tutupan awan. Selain itu, asap dengan konsentrasi sangat tipis juga dapat luput dari deteksi.


Dengan demikian, tidak terdeteksinya asap di suatu wilayah pada waktu pemantauan tertentu tidak selalu berarti udara di kawasan tersebut sepenuhnya bebas dari asap karhutla.


Pemantauan perlu dilakukan secara berkala dengan mempertimbangkan perkembangan cuaca, arah angin, serta data kualitas udara setempat.


Penanganan Karhutla Tetap Perlu Diwaspadai


Perubahan sebaran asap menuju negara-negara tetangga menjadi perkembangan penting dalam pemantauan karhutla Indonesia. Namun, asap yang masih terdeteksi di sejumlah wilayah domestik dan pergerakannya menuju Australia utara menunjukkan bahwa kewaspadaan tetap diperlukan.


Upaya pencegahan kebakaran, penanganan titik api, dan pemantauan kualitas udara perlu terus dilakukan untuk menekan dampak karhutla terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.


Informasi BMKG mengenai sebaran asap juga perlu dipahami sesuai waktu pengamatan. Arah dan jangkauan asap dapat berubah seiring perubahan kondisi atmosfer, sehingga perkembangan terbaru tetap menjadi acuan dalam menilai situasi di masing-masing wilayah.(Rhz2797)