Notification

×

Iklan

Iklan

BGN Tes MBG dengan Sistem Prasmanan, Ada Alasan Penting di Baliknya

Oktober 06, 2026 Last Updated 2026-10-06T04:02:21Z

Badan Gizi Nasional (BGN) mulai melakukan uji coba model baru dalam penyajian Makan Bergizi Gratis (MBG). Berbeda dari sistem pembagian makanan dalam bentuk paket, makanan kini dibawa dalam kondisi hangat ke ruang kelas dan disajikan menggunakan konsep prasmanan.


Uji coba tersebut telah dilakukan di lebih dari 60 dapur MBG. Sistem baru ini diharapkan dapat memperpendek waktu antara makanan selesai dimasak hingga dikonsumsi oleh siswa.


Kepala BGN Sudaryono mengatakan penyajian makanan secara prasmanan menjadi salah satu pendekatan yang sedang diuji untuk meningkatkan kualitas makanan yang diterima para penerima manfaat.


MBG Disajikan Hangat Langsung di Kelas


Dalam sistem yang sedang diuji, makanan dari dapur tidak langsung dikemas menjadi porsi individual. Setelah selesai dimasak, makanan dibawa dalam keadaan hangat menuju sekolah.


Setibanya di kelas, makanan kemudian ditata dan disajikan secara prasmanan. Para siswa dapat mengambil makanan sesuai dengan kebutuhan mereka.


Menurut Sudaryono, cara tersebut memiliki sejumlah keunggulan. Salah satunya adalah makanan dapat dikonsumsi dalam kondisi yang lebih hangat sehingga diharapkan kualitas dan cita rasanya tetap terjaga.


Selain itu, waktu tunggu makanan sebelum disantap juga dapat ditekan. BGN berharap kondisi tersebut membuat makanan lebih segar ketika diterima siswa.


Terinspirasi Sistem Makan Sekolah di Jepang


BGN tidak menerapkan sistem prasmanan tersebut tanpa pertimbangan. Menurut Sudaryono, konsep yang sedang diuji turut mempertimbangkan pola penyediaan makanan di sekolah yang diterapkan di Jepang.


Meski demikian, sistem dari negara lain tidak serta-merta diterapkan begitu saja di Indonesia. BGN masih melihat bagaimana konsep tersebut dapat disesuaikan dengan kondisi sekolah, dapur MBG, serta jumlah siswa yang menerima makanan.


Penyesuaian menjadi penting karena karakteristik setiap sekolah berbeda, baik dari sisi fasilitas maupun sumber daya manusia yang tersedia.


Siswa Bisa Mengambil Makanan Sesuai Kebutuhan


Salah satu perbedaan utama sistem prasmanan dengan pembagian makanan dalam paket adalah fleksibilitas porsi. Siswa dapat mengambil makanan sesuai dengan kebutuhan mereka.


Jika makanan masih tersedia, siswa juga berkesempatan untuk mengambil tambahan. Pola seperti ini dinilai berpotensi membantu mengurangi makanan yang tersisa karena setiap siswa tidak harus menerima porsi yang sama.


BGN menyebut laporan awal dari pelaksanaan uji coba menunjukkan adanya potensi pengurangan makanan yang terbuang.


Dengan konsep tersebut, makanan yang tersedia dapat disesuaikan dengan kebutuhan siswa, sementara sisa makanan yang masih layak dikonsumsi dapat dimanfaatkan oleh penerima manfaat lain.


Tidak Sekadar Mengubah Cara Penyajian


Meski terlihat sederhana, penerapan MBG dengan sistem prasmanan membutuhkan persiapan yang cukup matang. Sekolah dan dapur penyedia makanan harus memiliki mekanisme pelayanan yang jelas.


Aspek kebersihan juga menjadi perhatian penting. Peralatan makan, tempat penyajian, hingga proses pengambilan makanan harus dikelola dengan baik agar standar keamanan dan kebersihan pangan tetap terjaga.


BGN juga menilai diperlukan pelatihan bagi pihak-pihak yang terlibat. Setelah sistem berjalan secara rutin, siswa bahkan dapat dilibatkan dalam kegiatan pelayanan secara bergiliran dengan tetap memperhatikan aturan dan pengawasan yang diperlukan.


Masih Dalam Tahap Uji Coba


BGN belum menetapkan kapan sistem prasmanan akan diterapkan secara nasional. Saat ini, pelaksanaan di sejumlah sekolah masih dalam tahap pengujian dan evaluasi.


Evaluasi tersebut diperlukan untuk mengetahui efektivitas sistem dalam berbagai kondisi. BGN perlu melihat kesiapan dapur, sekolah, tenaga pelaksana, sarana pendukung, hingga jumlah siswa yang menerima program MBG.


Hasil pemantauan dari lebih dari 60 dapur yang telah menjalankan uji coba nantinya akan menjadi bahan pertimbangan sebelum sistem tersebut diperluas.


BGN Cari Model MBG yang Lebih Efektif


Uji coba sistem prasmanan menunjukkan bahwa pelaksanaan MBG terus dikembangkan untuk mencari pola penyajian yang dinilai paling efektif.


Fokusnya bukan hanya pada bagaimana makanan sampai ke siswa, tetapi juga bagaimana menjaga makanan tetap hangat dan segar, mengurangi waktu tunggu, menekan potensi makanan terbuang, serta memastikan proses penyajian berlangsung secara higienis.


Untuk saat ini, sistem prasmanan masih berstatus uji coba. BGN akan menentukan langkah selanjutnya setelah memperoleh hasil evaluasi dari pelaksanaan di berbagai sekolah dan dapur MBG.


Jika hasil pengujian menunjukkan sistem tersebut dapat diterapkan secara efektif, model prasmanan berpotensi menjadi salah satu alternatif dalam pengembangan penyelenggaraan Makan Bergizi Gratis di Indonesia.(Rhz2797)