Upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan (Kalsel) dinilai membutuhkan keterlibatan masyarakat luas, termasuk pondok pesantren. Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Muhaimin Iskandar atau Gus Muhaimin, mendorong agar pesantren dan masyarakat lokal dilibatkan secara aktif dalam menjaga kelestarian hutan.
Pernyataan tersebut disampaikan Gus Muhaimin saat menjadi inspektur upacara peringatan Hari Santri Nasional di Pondok Pesantren Al-Falah Putera, Kelurahan Landasan Ulin Barat, Kecamatan Liang Anggang, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Sabtu (24/10/2026).
Menurut Gus Muhaimin, pesantren memiliki potensi besar untuk menjadi bagian dari upaya perlindungan lingkungan. Kepedulian terhadap kelestarian alam yang tumbuh di lingkungan pesantren dapat menjadi kekuatan strategis dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan.
“Sebetulnya di mana ada pesantren, biasanya ada keberpihakan dan ada tindakan-tindakan preventif. Karena sudah banyak pesantren yang menjadi kekuatan penjaga lingkungan,” ungkapnya.
Gus Muhaimin Minta Pemerintah Libatkan Pesantren Jaga Hutan
Gus Muhaimin meminta pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta kementerian yang menangani urusan lingkungan hidup dan kehutanan agar memberikan ruang lebih besar bagi pesantren dalam kebijakan pelestarian lingkungan.
Ia menilai, penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan dan tindakan pemerintah. Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan juga perlu dilibatkan karena memiliki pengalaman serta kearifan lokal yang dapat mendukung upaya pencegahan kebakaran.
Pelibatan masyarakat dinilai penting untuk memperkuat langkah antisipasi, meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, dan membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya menjaga kawasan hutan.
Gus Muhaimin menegaskan bahwa kejadian karhutla harus menjadi bahan evaluasi agar strategi perlindungan hutan ke depan dapat berjalan lebih efektif.
“Nah, kita jadikan kebakaran hutan ini sebagai evaluasi. Sekarang kita jaga hutan ke depan dengan melibatkan masyarakat lokal, libatkan pesantren dengan kearifannya terhadap lingkungan,” tegasnya.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, pesantren, dan masyarakat setempat, upaya menjaga kelestarian hutan diharapkan dapat dilakukan secara berkelanjutan. Pendekatan tersebut juga membuka peluang bagi lembaga pendidikan keagamaan untuk berkontribusi lebih luas dalam menghadapi persoalan lingkungan.
Infrastruktur Pesantren Masih Perlu Mendapat Perhatian
Selain membahas pencegahan karhutla, Gus Muhaimin turut menyoroti keterbatasan fasilitas yang masih dihadapi banyak pondok pesantren di Indonesia.
Dalam kegiatan tersebut, ia menyerahkan secara simbolis bantuan sarana dan prasarana serta sertifikasi kepada sejumlah pondok pesantren di Kalimantan Selatan. Dukungan itu diharapkan dapat membantu meningkatkan kualitas fasilitas pendidikan dan menunjang kegiatan belajar para santri.
Gus Muhaimin menyebut pesantren yang memiliki infrastruktur dan bangunan berkualitas masih menjadi bagian kecil dari keseluruhan lembaga pendidikan berbasis keagamaan di Indonesia. Menurutnya, jumlah tersebut baru berada di kisaran satu persen.
“Mayoritas pesantren-pesantren itu berdiri mandiri, kokoh dengan keterbatasan-keterbatasan yang ada,” ujarnya.
Ia mengapresiasi para pengasuh dan pengelola pesantren yang terus menjalankan tugas pendidikan meskipun harus menghadapi keterbatasan fasilitas maupun dukungan. Menurutnya, perjuangan tersebut menunjukkan besarnya kontribusi pesantren dalam mendidik generasi muda dan membangun karakter bangsa.
Karena itu, dukungan terhadap pesantren dinilai perlu terus diperkuat agar lembaga pendidikan tersebut dapat menjalankan fungsinya secara optimal.
Pemerintah Didorong Tingkatkan Bantuan untuk Pesantren
Gus Muhaimin menegaskan pentingnya perhatian berkelanjutan dari pemerintah terhadap perkembangan pesantren di berbagai daerah. Dukungan dapat dilakukan melalui bantuan fasilitas, peningkatan kualitas sarana pendidikan, serta program yang menunjang keberlangsungan kegiatan belajar mengajar.
“Pemerintah akan berupaya semaksimal mungkin memberikan perhatian, bantuan, dan dukungan,” katanya.
Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu pesantren mengatasi berbagai keterbatasan sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan bagi para santri.
Di sisi lain, Gus Muhaimin mengajak seluruh pesantren di Indonesia menjadikan peringatan Hari Santri Nasional sebagai momentum untuk melakukan transformasi dan pembenahan internal. Pesantren diharapkan terus berkembang agar mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai keagamaan yang menjadi landasannya.
Hari Santri Nasional Jadi Momentum Perluas Peran Pesantren
Peringatan Hari Santri Nasional tidak hanya menjadi kesempatan untuk menghargai kontribusi santri dan pesantren, tetapi juga momentum untuk memperkuat peran keduanya dalam kehidupan masyarakat.
Dorongan Gus Muhaimin agar pesantren terlibat dalam pencegahan karhutla menunjukkan bahwa kontribusi lembaga pendidikan keagamaan dapat diperluas hingga bidang pelestarian lingkungan.
Dengan dukungan pemerintah, keterlibatan masyarakat lokal, serta penguatan sarana pendidikan, pesantren diharapkan mampu berkontribusi lebih besar dalam menjawab berbagai persoalan sosial dan lingkungan.
Upaya menjaga kelestarian hutan dan meningkatkan kualitas pendidikan pesantren membutuhkan kerja sama yang berkesinambungan. Kolaborasi tersebut menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga lingkungan sekaligus mempersiapkan generasi muda yang peduli terhadap masa depan bangsa.(Rhz2797)

