Bekasi — Banjir yang kembali meluas di Kabupaten Bekasi kini tidak hanya merendam permukiman warga. Ribuan hektare sawah ikut tenggelam, memicu kekhawatiran serius akan potensi gagal panen yang dapat berdampak pada kehidupan petani dan pasokan pangan di wilayah tersebut.
Berdasarkan pendataan sementara dari instansi terkait, luas lahan pertanian yang terdampak banjir mencapai lebih dari 5.000 hektare. Sawah-sawah yang terendam tersebar di puluhan desa pada sejumlah kecamatan, dengan ketinggian air yang bervariasi dan sebagian masih belum surut hingga kini.
Genangan air tidak hanya terjadi di lahan yang baru ditanami, tetapi juga di sawah yang sudah memasuki fase pertumbuhan lanjut hingga mendekati masa panen. Tanaman padi yang terlalu lama terendam air berisiko mengalami pembusukan, roboh, dan penurunan kualitas hasil panen.
Kondisi ini menjadi pukulan berat bagi petani, mengingat biaya produksi seperti benih, pupuk, dan perawatan sudah dikeluarkan sejak awal musim tanam. Jika banjir bertahan lama, peluang untuk menyelamatkan hasil panen semakin kecil.
Selain merendam sawah produktif, banjir juga merusak lahan persemaian. Kerusakan pada tahap awal tanam ini dinilai sangat krusial karena memaksa petani mengulang proses tanam dari awal.
Situasi tersebut tidak hanya menambah beban biaya, tetapi juga menggeser kalender tanam dan panen. Dampaknya, siklus produksi padi di Kabupaten Bekasi terancam terganggu dalam waktu yang lebih panjang.
Pemerintah daerah melalui dinas pertanian terus melakukan pendataan di lapangan untuk memastikan tingkat kerusakan lahan pertanian akibat banjir. Pendataan ini menjadi dasar penentuan langkah lanjutan, termasuk kemungkinan pemberian bantuan bagi petani terdampak.
Di sisi lain, pemerintah juga berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mengantisipasi banjir susulan, mengingat curah hujan di wilayah hulu sungai masih terpantau tinggi.
Bekasi salah satu daerah penyangga pertanian di Jawa Barat. Banjir yang merendam ribuan hektare sawah dinilai berpotensi menimbulkan dampak lebih luas, terutama jika gagal panen benar-benar terjadi.
Penurunan produksi padi dapat memengaruhi ketersediaan beras di tingkat lokal dan regional. Kondisi ini menjadi perhatian serius di tengah kebutuhan pangan masyarakat yang terus meningkat.
Para petani berharap air segera surut agar lahan pertanian masih bisa diselamatkan. Mereka juga menanti langkah konkret dari pemerintah, mulai dari bantuan benih hingga pendampingan teknis pascabanjir.
Banjir yang berulang kali melanda Kabupaten Bekasi kembali menegaskan pentingnya pembenahan tata kelola air dan lingkungan. Tanpa solusi jangka panjang, ancaman serupa dikhawatirkan akan terus menghantui sektor pertanian dan kesejahteraan petani.
