Publik dihebohkan oleh kasus seorang perempuan bernama Khairunnisa alias Nisya yang nekat menyamar sebagai pramugari (flight attendant/FA) palsu dan bahkan berhasil ikut terbang dalam penerbangan maskapai nasional. Kasus ini sontak menyedot perhatian luas karena menyentuh aspek paling krusial dalam dunia aviasi: keamanan penerbangan.
Bukan sekadar penipuan biasa, penyamaran Nisya dilakukan dengan tingkat totalitas yang nyaris sempurna. Ia tampil layaknya awak kabin resmi, mengenakan seragam lengkap, membawa koper dan tas maskapai, hingga berperilaku profesional seperti kru pesawat sungguhan. Penampilannya membuat banyak orang, termasuk petugas bandara dan penumpang lain, tidak menaruh curiga.
Kasus ini pun viral setelah sejumlah unggahan warganet di platform Threads menyebar luas sejak Selasa, 7 Januari 2026.
Awal Terbongkarnya Pramugari Gadungan
Fakta mengejutkan ini pertama kali terungkap lewat unggahan beberapa akun Threads yang secara terbuka memperingatkan masyarakat soal keberadaan FA gadungan. Dalam unggahan tersebut, warganet menyoroti keberanian Nisya yang dinilai “terlalu jauh” demi mewujudkan keinginannya.
“Hati-hati FA gadungan. Energinya luar biasa, nyamar jadi pramugari dan mengaku cabin crew. Tolong jangan halu, kalau mau jadi pramugari ikut rekrutmen resmi,” tulis salah satu akun.
Unggahan tersebut dilengkapi sejumlah foto yang memperlihatkan Nisya tampil rapi, percaya diri, dan profesional—nyaris mustahil dibedakan dari pramugari aktif.
Penampilan Nyaris Sempurna ala Awak Kabin
Dalam foto-foto yang beredar, Nisya tampak mengenakan kebaya putih khas awak kabin, dipadukan dengan rok batik merah tua. Rambutnya disanggul rapi sesuai standar grooming pramugari.
Tak hanya itu, ia juga membawa koper dan tas perjalanan beratribut Batik Air, yang belakangan diketahui merupakan barang palsu. Detail-detail inilah yang membuat penyamarannya nyaris sempurna dan sulit terdeteksi secara kasat mata.
Totalitas tersebut membuat banyak pihak mempertanyakan bagaimana seseorang tanpa identitas resmi bisa begitu mudah menyatu di lingkungan bandara yang dikenal memiliki sistem keamanan ketat.
Berhasil On Board dan Ikut Terbang
Hal paling mengkhawatirkan adalah fakta bahwa Nisya berhasil naik pesawat dan ikut terbang dalam sebuah penerbangan rute Palembang–Jakarta. Berdasarkan informasi yang beredar, ia membeli tiket sebagai penumpang, namun diduga disangka sebagai extra crew oleh petugas.
Kejanggalan baru muncul ketika kru pesawat mulai melakukan interaksi lebih jauh. Nisya disebut tidak mampu menjawab pertanyaan dasar terkait tugas awak kabin, termasuk prosedur keselamatan dan komunikasi dalam bahasa Inggris.
“Pas ditanya malah nggak nyambung, ID card-nya juga aneh. Begitu landing, langsung ditunggu avsec,” tulis seorang warganet yang mengaku mendapat informasi internal.
Pengakuan Terbuka Nisya
Setelah identitasnya terungkap dan spekulasi merebak, Nisya akhirnya menyampaikan pengakuan terbuka yang mengonfirmasi seluruh dugaan publik.
“Nama saya Khairunnisa (Nisya), umur 23 tahun, asal Palembang. Saya menyatakan benar melakukan penerbangan Batik Air rute Palembang–Jakarta pada 6 Januari 2026. Saya menggunakan atribut dan seragam pramugari, namun sesungguhnya saya bukan pramugari Batik Air,” ungkapnya.
Pengakuan tersebut memicu beragam reaksi warganet. Ada yang mengecam keras, ada yang khawatir soal celah keamanan bandara, dan ada pula yang menyoroti aspek psikologis di balik aksi nekat tersebut.
Disebut Sering Bertingkah Layaknya Kru
Informasi yang beredar di lingkungan Bandara SMB II Palembang menyebutkan bahwa Nisya sebelumnya kerap bepergian dengan sikap dan gestur layaknya awak kabin. Meski berstatus penumpang berbayar, pembawaannya yang percaya diri membuat kehadirannya tidak menimbulkan kecurigaan berarti.
Ia bahkan disebut sering diantar keluarga ke bandara, sehingga semakin menguatkan kesan sebagai kru pesawat.
Namun, keberuntungannya berakhir ketika ia diduga membeli tiket pada maskapai dengan pengawasan internal yang lebih ketat. Interaksi mendalam dengan kru menjadi titik balik terbongkarnya penyamaran tersebut.
Alarm Serius bagi Keamanan Penerbangan
Kasus Nisya bukan sekadar kisah pramugari gadungan yang viral di media sosial. Peristiwa ini menjadi alarm keras bagi sistem keamanan penerbangan, terutama terkait verifikasi identitas, pengawasan awak kabin, dan celah dalam prosedur boarding.
Seragam dan atribut mungkin mampu menipu mata, tetapi keamanan penerbangan tidak boleh bergantung pada asumsi visual semata. Kejadian ini menegaskan bahwa intuisi kru dan ketelitian manusia masih menjadi benteng terakhir ketika sistem lengah.
Di balik kontroversi ini, publik kini menanti langkah tegas dari maskapai dan otoritas penerbangan agar kejadian serupa tidak terulang—karena dalam dunia aviasi, satu kelengahan kecil bisa berujung pada risiko besar.
