KOTA BEKASI — Peredaran barang tiruan atau KW di wilayah Bekasi masih mudah ditemukan dan tetap memiliki pasar yang cukup besar. Produk fesyen non-original tersebut diminati berbagai kalangan masyarakat, terutama karena faktor harga yang lebih terjangkau dan kenyamanan saat digunakan.
Sejumlah warga mengaku tidak selalu memprioritaskan keaslian merek ketika membeli pakaian. Bagi mereka, kenyamanan bahan dan kecocokan selera justru menjadi pertimbangan utama dibanding label original.
Salah satu warga Kota Bekasi, Rezaldy Pamungkas (36), mengatakan dirinya kerap membeli pakaian tanpa harus memastikan status original. Menurutnya, selama nyaman dipakai, merek bukan hal yang krusial.
“Kalau untuk baju, yang penting nyaman dipakai. Tidak harus original, yang penting bahannya enak dan tidak panas,” ujar Rezaldy saat dikonfirmasi, Sabtu (7/2/2026).
Rezaldy menyebut, barang-barang tersebut mudah dijumpai di berbagai titik penjualan, mulai dari pasar malam, bazar, hingga lapak pedagang musiman saat kegiatan car free day (CFD). Harga yang relatif murah menjadi alasan utama dirinya memilih produk non-original.
Namun demikian, ia mengaku lebih selektif saat membeli sepatu. Menurutnya, sepatu original umumnya lebih awet dan nyaman untuk penggunaan jangka panjang.
“Kalau sepatu biasanya saya usahakan beli yang original, karena kalau tidak ori sering cepat jebol atau kurang nyaman dipakai,” jelasnya.
Sementara itu, seorang penjual sepatu berinisial EPS (35) mengungkapkan bahwa produk tiruan justru memiliki pasar tersendiri di Bekasi. Menurutnya, permintaan terhadap sepatu KW masih stabil karena menyesuaikan daya beli masyarakat.
“Pasarnya tetap ada. Banyak pembeli ingin tampil dengan merek terkenal, tapi disesuaikan dengan kemampuan budget,” tutur EPS.
EPS menjelaskan, sepatu tiruan yang dijual umumnya dibanderol dengan harga ratusan ribu rupiah, jauh lebih murah dibanding produk original yang bisa mencapai jutaan rupiah. Selisih harga inilah yang menjadi faktor utama tingginya minat konsumen.
“Sebagian pembeli tidak terlalu mempermasalahkan original atau tidak. Yang penting modelnya mirip dan masih layak dipakai,” katanya.
Penjualan produk tersebut, lanjut EPS, banyak dilakukan secara online melalui media sosial. Dalam sebulan, ia mengaku mampu menjual puluhan pasang sepatu kepada pembeli dari berbagai wilayah.
Fenomena ini menunjukkan bahwa barang KW masih menjadi pilihan bagi sebagian masyarakat Bekasi, khususnya untuk kebutuhan fesyen harian yang mengutamakan kenyamanan serta keterjangkauan harga dibanding gengsi merek.
