Indonesia kembali menunjukkan peran strategisnya di panggung global. Pemerintah resmi menerima tawaran untuk menjadi Wakil Komandan dalam Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) yang baru dibentuk untuk mengawal situasi keamanan di Gaza.
Keputusan penting ini diumumkan dalam rapat perdana Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian, menandai babak baru keterlibatan Indonesia dalam misi perdamaian internasional.
Diumumkan Langsung Komandan ISF
Pengumuman tersebut disampaikan langsung oleh Komandan ISF, Mayor Jenderal Jasper Jeffers.
Dalam pernyataannya, Jeffers memastikan bahwa Indonesia telah menerima posisi strategis sebagai Wakil Komandan ISF.
“Saya telah menawarkan dan Indonesia telah menerima posisi wakil komandan untuk ISF,” ujarnya.
Ia menegaskan, kehadiran ISF bertujuan memastikan stabilitas keamanan di Gaza, sehingga proses perdamaian dapat berjalan berkelanjutan. Pasukan ini akan mengawal implementasi gencatan senjata dan menjaga stabilitas, bukan untuk melakukan konfrontasi militer.
Fokus ISF: Stabilitas dan Pemerintahan Sipil
ISF dibentuk dengan mandat utama untuk menstabilkan situasi keamanan pascakonflik. Stabilitas ini dinilai penting agar pemerintahan sipil dapat berjalan secara efektif.
Jeffers menyebut langkah awal ini sebagai fondasi untuk menciptakan keamanan yang dibutuhkan Gaza demi kemakmuran jangka panjang dan perdamaian yang langgeng.
Dengan struktur komando internasional, ISF diharapkan mampu menjadi penengah yang netral sekaligus pengawas gencatan senjata di lapangan.
Indonesia Siap Kirim Hingga 8.000 Pasukan
Sebelumnya, Indonesia telah menyatakan kesiapan mengirim hingga 8.000 personel jika mandat dan konfirmasi resmi telah ditetapkan. Jumlah ini menjadi bagian dari target total kekuatan ISF yang diproyeksikan mencapai 20.000 tentara, termasuk pembentukan pasukan kepolisian baru.
Langkah ini mempertegas posisi Indonesia sebagai salah satu kontributor utama dalam misi stabilisasi global, khususnya di kawasan Timur Tengah.
Negara Lain yang Terlibat
Selain Indonesia, sejumlah negara juga telah menyatakan komitmen untuk bergabung dalam ISF. Di antaranya adalah Maroko—yang menjadi negara Arab pertama menyatakan kesiapan—serta Albania, Kazakhstan, dan Kosovo.
Keterlibatan banyak negara menunjukkan bahwa stabilisasi Gaza menjadi perhatian internasional yang luas, dengan harapan terciptanya kondisi aman dan tertib bagi masyarakat sipil.
Peran Strategis Indonesia di Kancah Global
Keputusan menjadi Wakil Komandan ISF menempatkan Indonesia pada posisi strategis dalam pengambilan keputusan operasional di lapangan. Peran ini tidak hanya memperkuat diplomasi Indonesia, tetapi juga menunjukkan komitmen terhadap perdamaian dunia sebagaimana diamanatkan dalam konstitusi.
Jika seluruh proses berjalan sesuai rencana, kehadiran Indonesia di struktur komando ISF akan menjadi tonggak penting dalam sejarah keterlibatan pasukan perdamaian Tanah Air di wilayah konflik internasional.
