Bulan Ramadan selalu jadi momen spesial bagi keluarga. Tak sedikit orangtua mulai mengajak anak ikut sahur dan belajar puasa sejak dini. Namun, sebenarnya kapan anak boleh mulai berlatih puasa?
Menurut dokter spesialis anak sekaligus CEO & Founder platform edukasi parenting Tentang Anak, dr. Mesty Ariotedjo, kesiapan anak untuk berpuasa tidak bisa ditentukan hanya dari usia. Faktor tumbuh kembang dan kondisi kesehatan secara menyeluruh jauh lebih penting untuk diperhatikan.
“Yang paling penting sebelum anak mulai puasa adalah memastikan pertumbuhannya berada dalam tahap ideal dan sehat,” jelasnya.
Jangan Lihat Usia Saja, Cek Tumbuh Kembangnya
Sebelum mengajak anak belajar puasa Ramadan, orangtua perlu memastikan status gizinya baik. Berat dan tinggi badan harus sesuai dengan usia, serta kenaikan berat badan mengikuti kurva pertumbuhan.
Pemantauan ini bisa dilakukan melalui konsultasi dokter atau melihat Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Jika kurva pertumbuhan stabil dan sesuai standar, anak lebih siap untuk mulai berlatih puasa.
Puasa yang terlalu dipaksakan dikhawatirkan bisa mengganggu kenaikan berat badan dan perkembangan fisik, terutama pada anak usia dini yang masih berada dalam masa pertumbuhan pesat.
Anak Usia 3–7 Tahun, Perhatikan Jam Tidur
Banyak orangtua mengajak anak usia balita hingga prasekolah ikut sahur pukul 03.00–04.00. Padahal, menurut dr. Mesty, anak usia 3–7 tahun masih membutuhkan tidur malam selama 10 jam tanpa terputus.
- Tidur yang cukup berpengaruh besar terhadap:
- Kemampuan kognitif
- Regulasi emosi
- Kemampuan pemecahan masalah
- Sistem imun
- Produksi hormon pertumbuhan
Hormon pertumbuhan optimal diproduksi saat anak memasuki fase tidur lelap, terutama antara pukul 22.00–02.00. Jika jam tidur terganggu terus-menerus selama Ramadan, perkembangan anak bisa terdampak.
Karena itu, untuk anak usia 3–7 tahun, sahur bisa disesuaikan dengan waktu sarapan biasa. Puasa pun cukup dilakukan semampunya, misalnya hingga waktu tertentu saat anak mulai merasa sangat lapar.
Usia 7 Tahun ke Atas Bisa Mulai Bertahap
Setelah usia 7 tahun, anak umumnya sudah lebih siap untuk mulai latihan puasa secara bertahap. Orangtua bisa membuat target realistis, seperti:
- Puasa hingga waktu Dzuhur
- Dilanjutkan hingga Ashar
- Perlahan sampai Maghrib
Yang terpenting, berat badan dan kurva pertumbuhan tetap dipantau secara rutin.
Memasuki usia remaja, anak biasanya sudah dapat menjalankan puasa penuh seperti orang dewasa. Namun, kualitas tidur tetap harus dijaga agar tidak berdampak pada konsentrasi belajar dan kesehatan.
Ramadan Bukan Sekadar Tahan Lapar
Ramadan bukan hanya tentang menahan makan dan minum. Ini juga momen melatih disiplin dan membangun kebiasaan sehat.
Orangtua bisa memulai rutinitas tidur yang konsisten, seperti:
- Membaca buku sebelum tidur
- Mengurangi screen time di malam hari
- Membuat jadwal tidur tetap
Dengan tidur cukup, anak akan lebih segar saat bangun sahur dan tetap fokus beraktivitas di sekolah.
Kenalkan Puasa Tanpa Paksaan
Salah satu cara terbaik mengenalkan puasa pada anak adalah melalui contoh. Anak belajar dari apa yang ia lihat. Ketika orangtua berpuasa dan beribadah dengan konsisten, anak akan penasaran dan bertanya.
Dari situ, orangtua bisa menjelaskan makna puasa secara perlahan tanpa membebani. Pendekatan yang natural membuat anak merasa ingin mencoba, bukan karena terpaksa.
Pada akhirnya, setiap anak memiliki kesiapan yang berbeda. Fokus utama tetap pada kesehatan, pertumbuhan optimal, serta kebutuhan tidur yang terpenuhi. Dengan pendekatan yang bijak, anak bisa belajar puasa dengan aman, nyaman, dan penuh makna di bulan Ramadan.
