Sejumlah sopir truk sampah mengaku resah saat melintas di Jalan Gang Lurah, Kelurahan Sumur Batu, Kecamatan Bantar Gebang, Kota Bekasi. Mereka diduga menjadi korban aksi pungutan liar (pungli) ketika hendak menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumur Batu.
Insiden tersebut bahkan sempat terekam dalam video amatir yang beredar di media sosial. Dalam rekaman itu, terlihat kaca dan bodi truk sampah mengalami kerusakan akibat lemparan batu dari oknum tak bertanggung jawab. Aksi pelemparan diduga terjadi karena sopir truk menolak memberikan sejumlah uang yang diminta.
Pungli Diduga Dilakukan Sekelompok Oknum
Berdasarkan keterangan para sopir, dalam beberapa hari terakhir mereka kerap dimintai uang oleh sekelompok emak-emak setiap kali melintas di gang tersebut. Permintaan uang dilakukan secara langsung di tengah jalan sebelum truk melanjutkan perjalanan ke TPA.
Praktik pungli ini disebut bukan hal baru. Para sopir menyebut aksi tersebut sudah berlangsung hampir satu bulan terakhir. Besaran uang yang diminta bervariasi, mulai dari Rp30 ribu hingga Rp50 ribu untuk setiap truk yang melintas.
Jika sopir tidak memberikan uang, mereka khawatir terjadi intimidasi hingga perusakan kendaraan, seperti yang terlihat dalam video viral tersebut.
Dalih Sumbangan Sukarela
Salah satu perempuan yang berada di lokasi, Farhan, membantah adanya paksaan dalam praktik tersebut. Ia menyebut pungutan itu bersifat sukarela dan tidak ditentukan nominalnya.
“Kalau di sini enggak ditentuin. Seikhlasnya mobil yang punya kendaraan, mampu enggak ngasihnya. Kasihan kalau dipaksain,” ujarnya pada Jumat, 27 Februari 2026.
Namun, pernyataan tersebut bertolak belakang dengan pengakuan para sopir yang merasa tertekan karena harus memberikan uang agar perjalanan mereka tidak terganggu.
Sorotan Keamanan dan Ketertiban
Kasus dugaan pungli dan perusakan truk sampah ini menimbulkan kekhawatiran soal keamanan jalur menuju TPA Sumur Batu di kawasan Kota Bekasi. Para sopir berharap ada tindakan tegas dari aparat agar aktivitas pengangkutan sampah tidak terhambat dan tidak lagi diwarnai intimidasi.
Hingga kini, warga dan para sopir menanti langkah konkret dari pihak berwenang untuk memastikan jalur distribusi sampah tetap aman dan bebas dari praktik pungutan liar.
